![]() |
Oleh: Duski Samad
Maulid Nabi di Masjid Raya Teluk Bayur 25082026 bersama Wako Padang Fadli Amran
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada seremoni, ceramah, pembacaan shalawat, dan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah. Maulid memperoleh makna yang lebih substantif ketika kecintaan itu melahirkan gerakan perubahan. Rasulullah SAW hadir membawa risalah yang membangun manusia dari ketidaktahuan menuju ilmu, dari kerusakan akhlak menuju kemuliaan budi, dan dari kehidupan yang tercerai-berai menuju masyarakat yang beradab. Karena itu, momentum Maulid Nabi patut dijadikan energi untuk membangun kembali ruang-ruang pendidikan umat, salah satunya melalui Smart Surau.
Smart Surau dapat dipahami sebagai afirmasi keagamaan sekaligus strategi pembangunan generasi. Surau dalam sejarah Minangkabau tidak pernah sekadar menjadi tempat salat. Surau adalah ruang pendidikan, tempat mengaji, pembentukan adab, pewarisan nilai, penguatan hubungan sosial, bahkan tempat generasi muda belajar memahami dirinya sebagai orang Minangkabau yang beragama dan beradat. Dari surau tumbuh generasi yang mengenal agama sekaligus masyarakatnya. Karena itu, ketika zaman berubah menjadi semakin digital, surau tidak boleh kehilangan fungsi tersebut. Yang diperlukan bukan meninggalkan tradisi surau, tetapi membawa kekuatan tradisi itu memasuki ruang kehidupan generasi digital.
Kebijakan memberikan insentif kepada guru mengaji dan tenaga pendidik MDTW menjadi bagian penting dari ikhtiar tersebut. Guru mengaji selama ini bekerja pada lapisan paling dasar pembentukan karakter masyarakat. Dari merekalah anak-anak pertama kali mengenal huruf Al-Qur'an, belajar salat, menghafal doa, mengenal halal dan haram, serta dibimbing tentang sopan santun kepada orang tua, guru, dan sesama. Penguatan terhadap guru mengaji karena itu bukan semata-mata persoalan insentif ekonomi, tetapi penghargaan terhadap orang-orang yang bekerja menjaga fondasi moral generasi.
Lebih strategis lagi ketika seluruh siswa SMP diarahkan mengikuti pendidikan MDTW dan sekitar 60 ribu siswa terlibat dalam Smart Surau. Angka ini menunjukkan besarnya potensi gerakan pendidikan berbasis masjid dan surau. Namun keberhasilannya tidak cukup diukur dari berapa banyak anak yang terdaftar. Ukuran terpenting adalah perubahan yang terjadi pada diri mereka. Apakah mereka semakin dekat dengan Al-Qur'an? Apakah adab kepada orang tua dan guru semakin baik? Apakah salatnya semakin terjaga? Apakah mereka semakin mampu membedakan informasi yang benar dan salah? Apakah mereka semakin bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadikan Smart Surau bergerak dari sekadar program menuju pembentukan peradaban.
Penyediaan akses internet pada 96 masjid oleh Pemerintah Kota menjadi langkah yang menarik dalam konteks tersebut. Internet di masjid hendaknya tidak dipahami hanya sebagai fasilitas Wi-Fi gratis. Kehadirannya harus diarahkan menjadi infrastruktur pendidikan. Melalui internet, masjid dan surau dapat menjadi pusat literasi Al-Qur'an, bahasa Arab, sejarah Islam, adat Minangkabau, keterampilan digital, hingga pengenalan kecerdasan artifisial secara sehat dan terbimbing. Anak-anak yang selama ini mengenal internet melalui kamar pribadi, warung, permainan daring, dan media sosial kini perlu mendapatkan ruang alternatif: internet yang dibimbing oleh nilai dan adab.
Di sinilah kata smart dalam Smart Surau memperoleh maknanya. Surau tidak menjadi pintar hanya karena memiliki jaringan internet. Surau menjadi smart ketika mampu mempertemukan iman, ilmu, teknologi, dan akhlak. Generasi muda tidak mungkin dijauhkan sepenuhnya dari teknologi. Mereka hidup di dalamnya. Tantangannya adalah bagaimana teknologi tidak mengambil alih jiwa mereka. Surau harus hadir membimbing mereka agar menjadi pengguna teknologi, bukan diperbudak teknologi; menjadi produsen pengetahuan, bukan sekadar konsumen hiburan; serta mampu menggunakan kecerdasan artifisial tanpa kehilangan kecerdasan spiritual dan moral.
Gerakan ini sekaligus merupakan jalan untuk perlahan-lahan kembali kepada jati diri Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Kembali kepada jati diri bukan berarti kembali hidup seperti masyarakat seratus tahun lalu. Jati diri adalah nilai yang dapat hadir dalam bentuk baru. Dahulu anak belajar di surau dengan lampu sederhana dan kitab di hadapan guru. Hari ini mereka mungkin datang membawa telepon pintar dan tablet. Peralatannya berubah, tetapi nilai dasarnya tidak boleh berubah: guru dihormati, ilmu dimuliakan, Al-Qur'an dijadikan pedoman, adat dijaga, dan kehidupan diarahkan kepada kemaslahatan.
Karena itu, menghidupkan ABS-SBK harus dilakukan perlahan tetapi pasti. Ia tidak cukup dituliskan pada baliho, disebutkan dalam pidato, atau menjadi slogan kebudayaan. ABS-SBK harus mempunyai rumah sosial. Salah satu rumah terpentingnya adalah surau. Ketika anak kembali ke surau, guru mengaji diperkuat, MDTW dihidupkan, internet pendidikan tersedia, adat diperkenalkan dan pengurus masjid bergerak, sesungguhnya masyarakat sedang membangun kembali fondasi ABS-SBK dari tingkat akar rumput.
Pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendirian. Karena itu, ajakan pemerintah kepada pengurus masjid agar aktif bergerak bersama harus diterima sebagai panggilan kolaborasi. Tantangan yang dihadapi generasi hari ini terlalu besar jika hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah. Pergaulan bebas, narkoba, perjudian daring, kekerasan, hoaks, kecanduan gawai, krisis sopan santun dan berbagai bentuk penyimpangan digital adalah persoalan bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan dan infrastruktur, sekolah memberikan pendidikan, ulama membimbing agama, ninik mamak menjaga adat, orang tua mengawasi keluarga, sedangkan masjid dan surau menjadi ruang perjumpaan semua kekuatan tersebut. Tantangan bersama hanya dapat diatasi dengan gerakan bersama.
Semangat Smart Surau juga harus berhubungan dengan pembangunan lingkungan kota. Di sinilah gagasan Taste of Padang Experience menjadi penting. Ketika Padang diarahkan sebagai kota gastronomi, yang dijual kepada masyarakat dan wisatawan sesungguhnya bukan hanya rasa makanan. Gastronomi adalah pengalaman menyeluruh terhadap kota. Rendang boleh enak, sate boleh terkenal dan kuliner Minang boleh mendunia, tetapi pengalaman gastronomi akan berkurang nilainya jika pengunjung menemukan jalan kotor, sampah berserakan, drainase tersumbat, pasar tidak tertata atau lingkungan permukiman tidak terpelihara.
Karena itu, kota gastronomi dengan sendirinya menuntut kota yang bersih. Capaian sertifikat kota terbersih pada peringkat kedelapan patut diapresiasi sebagai motivasi untuk bergerak lebih baik. Namun kebersihan kota tidak mungkin hanya menjadi pekerjaan petugas kebersihan. Jalan kompleks, halaman, selokan, lingkungan masjid dan ruang publik pada akhirnya berada paling dekat dengan masyarakat. Pemerintah dapat mengangkut sampah dan menyediakan sarana, tetapi budaya bersih hanya dapat lahir dari kesadaran warga.
Tradisi goro atau gotong royong lingkungan menjadi salah satu jawabannya. Goro bukan tradisi masa lalu yang kehilangan relevansi. Justru di tengah kehidupan kota yang semakin individualistis, goro merupakan kekuatan sosial yang perlu dihidupkan kembali. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Lingkungan yang berat dibersihkan sendiri menjadi ringan ketika dikerjakan bersama.
Smart Surau bahkan dapat menjadi pusat gerakan kebersihan tersebut. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada hafalan dan ceramah. Anak yang belajar di surau perlu dibiasakan mencintai kebersihan, menjaga halaman masjid, tidak membuang sampah sembarangan, merawat tanaman dan ikut dalam goro lingkungan. Dengan cara itu, nilai agama turun dari mimbar menuju jalan, selokan, pasar, sekolah dan permukiman. Kesalehan tidak hanya terlihat ketika seseorang berada di dalam masjid, tetapi juga dari cara ia memperlakukan lingkungan di luar masjid.
Semua itu menemukan relevansinya dalam peringatan Maulid Nabi. Allah SWT mengingatkan, “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kamu” (QS. Al-Ahzab: 21). Keteladanan Rasulullah tidak berhenti pada ibadah personal. Beliau membangun manusia, mendidik masyarakat, mempersaudarakan umat, menjaga kebersihan, menegakkan tanggung jawab sosial dan membentuk peradaban.
Maka Maulid Nabi di Kota Padang semestinya menjadi momentum bergerak dari peringatan menuju keteladanan, dari ceramah menuju gerakan, dari Wi-Fi menuju literasi, dari teknologi menuju akhlak, dari slogan ABS-SBK menuju pembiasaan, serta dari surau menuju pembangunan peradaban.
Smart Surau membangun manusianya. MDTW memperkuat pendidikan agamanya. Guru mengaji menjaga ruh pendidikannya. Internet masjid membuka cakrawala digitalnya. ABS-SBK meneguhkan jati dirinya. Goro menjaga lingkungan sosialnya. Sementara Taste of Padang Experience menghadirkan wajah kota yang bersih, ramah, religius, berbudaya dan membanggakan.
Jika pemerintah, pengurus masjid, guru mengaji, sekolah, orang tua, alim ulama, ninik mamak, cadiak pandai, bundo kanduang dan generasi muda bergerak dalam arah yang sama, Smart Surau dapat menjadi lebih daripada sebuah program. Ia dapat menjadi jalan pulang masyarakat kepada jati dirinya, tetapi dengan wajah yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Surau tidak boleh ditinggalkan oleh zaman. Justru dari suraulah zaman mesti diberi arah.25082026
