![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Pendahuluan
Minangkabau memiliki sistem pendidikan Islam yang khas melalui tradisi surau. Dari surau lahir para Syekh, Tuanku, Labai, dan ulama yang membangun peradaban Islam, melahirkan jaringan sanad keilmuan, memperkuat falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK), serta menjadi penggerak pendidikan, dakwah, adat, dan kehidupan sosial masyarakat.
Selama berabad-abad, surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, pembinaan spiritual, pembentukan karakter, kaderisasi ulama, dan pengembangan kepemimpinan umat. Dari sistem halaqah surau lahir ulama-ulama besar Minangkabau yang berpengaruh pada tingkat lokal, nasional, bahkan dunia Islam.
Tradisi pendidikan surau memiliki kekuatan pada kedalaman ilmu agama, penghormatan kepada guru, kesinambungan sanad, pembiasaan ibadah, penguatan adab, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat. Seorang murid tidak hanya belajar memahami kitab, tetapi juga belajar hidup bersama guru, mengamalkan ilmu, melayani masyarakat, dan mempersiapkan diri menjadi pembimbing umat.
Memasuki abad ke-21, tantangan pendidikan Islam semakin kompleks. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, kecerdasan artifisial, globalisasi, regulasi pendidikan tinggi, dan tuntutan profesionalisme mengharuskan ulama tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama dan pengakuan tradisional, tetapi juga kompetensi akademik, kemampuan penelitian, literasi digital, kecakapan komunikasi, kepemimpinan, dan penguasaan metodologi pendidikan modern.
Legitimasi tradisional perlu diperkuat dengan legitimasi akademik. Sebaliknya, gelar akademik juga perlu diperkaya dengan adab, sanad keilmuan, pengalaman pengabdian, dan integritas keulamaan. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi diintegrasikan dalam satu sistem pendidikan yang utuh.
Atas dasar pemikiran tersebut, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman menghadirkan Program Ekselensi Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku, yaitu model pendidikan yang mengintegrasikan tradisi halaqah surau dengan pendidikan tinggi jenjang Sarjana (S1) dan Magister (S2).
Program ini dirancang untuk melahirkan ulama profesional, intelektual yang berkarakter, pendidik yang memiliki sanad keilmuan, peneliti yang produktif, serta pemimpin masyarakat yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisi keulamaan Minangkabau.
Landasan filosofis program ini berpijak pada firman Allah SWT:
«“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11)»
Allah SWT juga berfirman:
«“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, agar mereka dapat menjaga dirinya.”
(QS. At-Taubah: 122)»
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa keimanan, penguasaan ilmu, pendalaman agama, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan satu kesatuan yang menjadi fondasi pembangunan peradaban Islam.
Filosofi Program Ekselensi
Program Ekselensi ini dibangun atas keyakinan bahwa Tuanku merupakan identitas keulamaan, sedangkan Sarjana merupakan legitimasi akademik.
Tuanku adalah sebutan kehormatan bagi seseorang yang memiliki kedalaman ilmu agama, kemuliaan akhlak, pengabdian kepada masyarakat, dan pengakuan sosial sebagai pembimbing umat. Sementara itu, Sarjana merupakan lulusan pendidikan tinggi yang telah menempuh proses akademik, penelitian, pengujian kompetensi, dan memperoleh pengakuan formal melalui ijazah.
Karena itu, istilah Tuanku Sarjana menunjuk kepada lulusan pendidikan surau, pesantren, atau halaqah keislaman yang diperkuat dengan pendidikan tinggi dan gelar akademik. Adapun istilah Sarjana Tuanku menunjuk kepada sarjana pendidikan Islam yang diperkuat dengan pembinaan keulamaan, tradisi halaqah, penguasaan kitab, adab, sanad, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga layak memperoleh pengakuan sebagai Tuanku.
Program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) atau Magister Pendidikan (M.Pd.), tetapi melahirkan pribadi yang memiliki:
- Kedalaman ilmu agama.
- Kemuliaan akhlak dan adab.
- Sanad keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Kemampuan akademik dan penelitian.
- Kecakapan profesional dalam pendidikan.
- Kepemimpinan sosial dan pengabdian kepada umat.
Program Ekselensi memadukan tiga kekuatan utama, yaitu:
1. Keilmuan klasik, melalui halaqah surau, pesantren, pembacaan kitab, adab berguru, dan kesinambungan sanad.
2. Keilmuan modern, melalui pendidikan tinggi berbasis Outcome Based Education (OBE), penelitian, publikasi ilmiah, teknologi pendidikan, dan pengembangan profesi.
3. Pengabdian masyarakat, melalui dakwah, pendidikan, pendampingan umat, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Integrasi ketiga kekuatan tersebut diharapkan melahirkan sosok ulama intelektual dan intelektual ulama yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas.
Tujuan Program
Program Ekselensi Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku bertujuan:
- Merevitalisasi tradisi pendidikan surau dalam sistem pendidikan tinggi Islam.
- Memperkuat kualitas akademik alumni surau, pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan Islam.
- Membentuk sarjana pendidikan Islam yang memiliki kedalaman ilmu agama, adab, dan sanad keilmuan.
- Melahirkan guru Pendidikan Agama Islam yang profesional, berkarakter, dan berwawasan keulamaan.
- Menghasilkan peneliti dan penggerak pendidikan Islam yang responsif terhadap perkembangan masyarakat.
- Menyiapkan pemimpin informal yang menjadi panutan, penasihat, mediator, dan konsultan umat.
- Memperkuat implementasi falsafah ABS-SBK melalui pendidikan, dakwah, dan pengabdian masyarakat.
- Menyiapkan generasi ulama intelektual dan intelektual ulama menuju Indonesia Emas 2045.
Empat Dimensi Kompetensi Lulusan
Program Ekselensi Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku dirancang untuk melahirkan lulusan yang memiliki keunggulan utuh melalui empat dimensi kompetensi yang saling berkaitan, yaitu:
1. Kompetensi Keulamaan
2. Kompetensi Akademik
3. Kompetensi Profesional
4. Kompetensi Kepemimpinan Sosial
Keempat dimensi tersebut merupakan integrasi antara tradisi pendidikan surau, pesantren, pendidikan tinggi, pengabdian masyarakat, dan sistem pembelajaran berbasis OBE.
1. Kompetensi Keulamaan
Religious Excellence
Kompetensi keulamaan merupakan identitas utama lulusan sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam yang bersanad. Kompetensi ini tidak hanya ditandai oleh penguasaan ilmu agama, tetapi juga oleh adab, keteladanan, pengamalan ilmu, dan pengabdian kepada masyarakat.
Lulusan diharapkan mampu:
- Memahami Al-Qur’an, hadis, fikih, ushul fikih, akidah, akhlak, tasawuf, sejarah Islam, dan khazanah keilmuan Islam klasik secara komprehensif.
- Memiliki kemampuan tafaqquh fi al-din sebagai dasar pembimbingan umat.
- Membaca, memahami, menjelaskan, dan mengajarkan kitab-kitab keislaman sesuai kemampuan dan jenjang pendidikannya.
- Menguasai tradisi halaqah, adab berguru, penghormatan kepada ulama, dan kesinambungan sanad keilmuan.
- Membiasakan doa sebelum memulai pembelajaran, pengajian, dan kegiatan keilmuan.
- Mampu berdakwah dengan hikmah, santun, moderat, inklusif, dan berorientasi pada Islam rahmatan lil ‘alamin.
- Menjadi pembimbing ibadah, penasihat, pendidik, dan rujukan masyarakat dalam persoalan keagamaan.
- Menjaga keseimbangan antara syariat, akhlak, tasawuf, adat, dan kehidupan sosial.
- Menjaga serta mengembangkan nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
- Layak memperoleh pengakuan dan penobatan sebagai Tuanku sesuai tradisi, mekanisme, dan pertimbangan masyarakat serta ulama setempat.
Kompetensi keulamaan menjadi fondasi spiritual dan moral bagi seluruh kompetensi lainnya. Seorang lulusan tidak hanya dituntut mengetahui ajaran Islam, tetapi juga menghayati, mengamalkan, dan meneladankannya.
2. Kompetensi Akademik
Academic Excellence
Kompetensi akademik membentuk lulusan yang unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, penelitian, pengembangan teori, dan inovasi pendidikan Islam.
Lulusan diharapkan mampu:
- Menguasai teori, konsep, dan metodologi Pendidikan Agama Islam secara mendalam.
- Mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu pendidikan, psikologi, teknologi, ilmu sosial, dan kebudayaan.
- Memahami filsafat pendidikan Islam, teori belajar, pengembangan kurikulum, evaluasi pembelajaran, dan manajemen pendidikan.
- Melaksanakan penelitian ilmiah secara sistematis, objektif, etis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Menghasilkan karya tulis ilmiah, artikel jurnal, bahan ajar, modul, buku, dan publikasi akademik.
- Mengembangkan pembelajaran berdasarkan hasil penelitian dan kebutuhan masyarakat.
- Berpikir kritis, analitis, reflektif, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan masalah pendidikan.
- Menganalisis persoalan pendidikan Islam melalui pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
- Memanfaatkan data, teknologi digital, dan kecerdasan artifisial secara etis untuk kepentingan pendidikan dan penelitian.
- Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Kompetensi akademik menjadi dasar bagi lulusan untuk mengembangkan ilmu, memperbaiki praktik pendidikan, dan memberikan solusi ilmiah terhadap berbagai persoalan umat.
3. Kompetensi Profesional
Professional Excellence
Kompetensi profesional membentuk lulusan yang siap bekerja, berkarya, dan memberikan layanan pendidikan sesuai standar mutu nasional serta perkembangan global.
Lulusan diharapkan mampu:
- Menjadi guru Pendidikan Agama Islam yang profesional di sekolah, madrasah, dan pesantren.
- Menjadi dosen sesuai kualifikasi akademik dan ketentuan peraturan yang berlaku.
- Menjadi peneliti, pengembang kurikulum, penyuluh agama, pengelola lembaga pendidikan, atau konsultan pendidikan Islam.
- Menguasai kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
- Merancang, melaksanakan, mengevaluasi, dan memperbaiki proses pembelajaran.
- Mengembangkan strategi, metode, media, dan sumber belajar yang inovatif.
- Mengelola kelas dan lingkungan pembelajaran yang aman, aktif, inklusif, dan berkarakter.
- Melakukan asesmen pembelajaran secara objektif, autentik, dan berkelanjutan.
- Mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan ilmu agama, ilmu umum, budaya lokal, dan teknologi.
- Memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan artifisial, dan media pembelajaran secara bertanggung jawab.
- Mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan Islam.
- Menjunjung tinggi etika profesi, integritas, disiplin, tanggung jawab, dan budaya kerja berkualitas.
- Menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya.
Kompetensi profesional menjadikan lulusan tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mampu menerapkan ilmu tersebut secara efektif, terukur, dan bertanggung jawab.
4. Kompetensi Kepemimpinan Sosial
Social Leadership Excellence
Kompetensi kepemimpinan sosial merupakan kemampuan lulusan untuk hadir sebagai penggerak perubahan, pembimbing masyarakat, dan pemimpin informal yang dihormati karena ilmu, akhlak, dan keteladanannya.
Lulusan diharapkan mampu:
- Menjadi pemimpin informal yang dipercaya masyarakat.
- Berperan sebagai guru tuo, mentor, penasihat, dan konsultan umat.
- Hadir dan berintegrasi dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas sosial, baik dalam suasana suka maupun duka.
- Menjadi mitra Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Cadiak Pandai, tokoh agama, pemerintah, dan unsur masyarakat lainnya.
- Menjadi mediator dan penengah dalam penyelesaian konflik keluarga, sosial, adat, dan keagamaan.
- Mengembangkan komunikasi yang santun, persuasif, edukatif, dan menyejukkan.
- Menggerakkan dakwah, pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, kegiatan sosial, dan pelestarian lingkungan.
- Memimpin musyawarah dan mengambil keputusan secara bijaksana.
- Mengembangkan jejaring kerja sama dengan lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, pemerintah, dan masyarakat.
- Menjadi teladan dalam pengamalan nilai-nilai Islam, kebangsaan, kemanusiaan, dan kebudayaan Minangkabau.
- Memperkuat harmoni sosial, moderasi beragama, persatuan, dan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan.
- Berkontribusi dalam membangun masyarakat yang beradab, mandiri, harmonis, dan berkemajuan menuju Indonesia Emas 2045.
Kompetensi kepemimpinan sosial merupakan manifestasi nyata dari ilmu dan pengabdian. Lulusan harus mampu membuktikan bahwa pendidikan yang ditempuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tuanku dalam Perspektif Adat Minangkabau
Dalam sistem sosial Minangkabau, Tuanku merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Tuanku tidak hanya berfungsi sebagai guru agama, tetapi juga sebagai penjaga moral, pembimbing masyarakat, pemelihara harmoni adat dan syarak, serta mitra unsur kepemimpinan adat.
Seorang Tuanku berfungsi sebagai:
- Pewaris dan penjaga sanad keilmuan Islam.
- Pembimbing ibadah masyarakat.
- Guru agama dan pendidik umat.
- Pembina akhlak generasi muda.
- Penjaga moral dan etika sosial.
- Penengah konflik keluarga dan masyarakat.
- Mitra Ninik Mamak, Bundo Kanduang, Cadiak Pandai, dan pemerintah.
- Penasihat dalam musyawarah adat.
- Pengawal hubungan harmonis antara adat dan syariat.
- Penggerak dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
- Konsultan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
- Pemimpin informal yang menjadi panutan umat.
Karena itu, penobatan Tuanku bukan sekadar pemberian gelar kehormatan. Penobatan tersebut merupakan pengakuan terhadap kapasitas keilmuan, kemuliaan akhlak, konsistensi pengabdian, dan penerimaan masyarakat.
Gelar Tuanku membawa tanggung jawab moral, sosial, dan keagamaan. Seorang Tuanku harus menjaga kehormatan ilmu, etika keulamaan, nama baik lembaga, dan kepercayaan masyarakat.
Etika dan Identitas Tuanku
Program Ekselensi membentuk identitas khas seorang Tuanku yang tercermin dalam penampilan, etika, kepribadian, dan kepemimpinannya.
Penampilan
Penampilan Tuanku bukan sekadar simbol lahiriah, tetapi mencerminkan kesantunan, kesederhanaan, kebersihan, kewibawaan, dan identitas keulamaan.
Identitas tersebut dapat diwujudkan melalui:
- Berkopiah sebagai bagian dari identitas ulama.
- Bersarung pada kegiatan keagamaan, halaqah, adat, dan pengabdian masyarakat.
- Mengenakan pakaian yang bersih, rapi, sederhana, santun, dan berwibawa.
- Menyesuaikan pakaian dengan tempat, kegiatan, dan nilai kepatutan.
- Menjaga penampilan agar mencerminkan kehormatan ilmu dan lembaga.
Etika
Etika Tuanku meliputi:
- Ikhlas dalam mengajar, berdakwah, dan mengabdi.
- Amanah dalam menjalankan tanggung jawab.
- Tawaduk dalam ilmu dan pergaulan.
- Santun dalam ucapan dan tindakan.
- Bijaksana dalam menyikapi perbedaan.
- Menjaga lisan dari fitnah, penghinaan, dan perkataan yang merusak.
- Menghormati guru, ulama, orang tua, dan sesama.
- Menjaga sanad dan amanah keilmuan.
- Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan.
- Bersikap adil dan tidak memihak secara tidak benar.
- Menjadi teladan dalam ibadah, akhlak, keluarga, dan kehidupan sosial.
- Menjaga etika akademik dan menghindari plagiarisme serta penyalahgunaan ilmu.
- Tidak menjadikan gelar Tuanku sebagai alat mencari kehormatan, kekuasaan, atau keuntungan pribadi.
Kepemimpinan
Tuanku merupakan leader without formal power, yaitu pemimpin yang dihormati bukan terutama karena jabatan formal, melainkan karena ilmu, akhlak, keteladanan, integritas, dan pengabdiannya.
Ia menjadi tempat bertanya, mengadu, meminta nasihat, mencari solusi, dan mendamaikan perselisihan. Kepemimpinannya tumbuh dari kepercayaan masyarakat dan ketulusan pengabdian.
Tuanku harus mampu menjadi:
- Teladan moral.
- Penggerak pendidikan.
- Penjaga harmoni.
- Penyambung aspirasi umat.
- Mediator sosial.
- Pendidik lintas generasi.
- Konsultan keagamaan.
- Penggerak transformasi masyarakat.
Model Integrasi Pendidikan
Program Ekselensi Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku dibangun melalui lima pilar utama.
1. Surau
Surau menjadi pusat:
- Pembinaan spiritual.
- Pendalaman ilmu agama.
- Pembelajaran kitab.
- Pembentukan adab.
- Penguatan sanad keilmuan.
- Pembiasaan ibadah dan kehidupan berjamaah.
2. Kampus
Kampus menjadi pusat:
- Pengembangan ilmu pengetahuan.
- Pendidikan akademik.
- Penelitian dan publikasi.
- Pengembangan metodologi.
- Inovasi pembelajaran.
- Penguatan kompetensi profesional.
3. Pesantren
Pesantren menjadi pusat:
- Pembentukan karakter.
- Penguatan budaya keilmuan.
- Kemandirian.
- Kedisiplinan.
- Keteladanan.
- Pembiasaan kehidupan religius.
4. Masyarakat
Masyarakat menjadi laboratorium:
- Dakwah.
- Pengabdian.
- Pendidikan umat.
- Penyelesaian masalah sosial.
- Pemberdayaan ekonomi.
- Penguatan ABS-SBK.
- Pengembangan kepemimpinan sosial.
5. Teknologi Digital
Teknologi digital menjadi media:
- Pembelajaran.
- Penelitian.
- Publikasi.
- Dakwah.
- Dokumentasi sanad dan sejarah ulama.
- Pengembangan literasi Islam.
- Penguatan jejaring akademik dan sosial.
Kelima pilar tersebut dilaksanakan secara terintegrasi agar lulusan mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keulamaan.
Strategi Pelaksanaan Program
Program Ekselensi dapat dilaksanakan melalui beberapa bentuk kegiatan.
1. Pendidikan Akademik
Pendidikan akademik dilaksanakan melalui kurikulum S1 dan S2 sesuai standar pendidikan tinggi, kebutuhan masyarakat, dan karakteristik STIT Syekh Burhanuddin Pariaman.
2. Halaqah Keilmuan
Halaqah dilaksanakan secara berkala untuk mendalami:
- Al-Qur’an dan hadis.
- Fikih dan ushul fikih.
- Akidah dan akhlak.
- Tasawuf.
- Sejarah ulama.
- Adat dan ABS-SBK.
- Kitab-kitab keislaman yang relevan.
3. Pembinaan Adab dan Karakter
Pembinaan dilakukan melalui:
- Keteladanan dosen dan guru.
- Adab belajar dan mengajar.
- Pembiasaan ibadah.
- Pendampingan mentor atau guru tuo.
- Kehidupan sosial bersama masyarakat.
- Evaluasi akhlak dan kedisiplinan.
4. Penelitian dan Publikasi
Mahasiswa didorong melakukan penelitian tentang:
- Pendidikan Islam.
- Tradisi surau.
- Syekh dan Tuanku.
- Manuskrip keislaman.
- Sanad keilmuan.
- ABS-SBK.
- Dakwah dan perubahan sosial.
- Teknologi pendidikan Islam.
5. Praktik Pengabdian Masyarakat
Mahasiswa dilibatkan dalam:
- Mengajar di surau, masjid, madrasah, dan pesantren.
- Membimbing ibadah masyarakat.
- Menjadi pendamping kegiatan sosial.
- Mengembangkan literasi keagamaan.
- Melakukan pemberdayaan masyarakat.
- Mendampingi kegiatan adat dan keagamaan.
6. Mentoring Keulamaan
Setiap mahasiswa memperoleh pendampingan dari ulama, dosen, atau guru tuo untuk mengembangkan:
- Kedalaman ilmu.
- Kematangan spiritual.
- Etika.
- Kemampuan berdakwah.
- Kepemimpinan.
- Kesiapan mengabdi.
7. Evaluasi Kelayakan Tuanku
Penobatan Tuanku tidak dilakukan hanya berdasarkan kelulusan akademik. Penilaian perlu mempertimbangkan:
- Penguasaan ilmu agama.
- Adab dan akhlak.
- Kemampuan membaca dan menjelaskan sumber keislaman.
- Kemampuan membimbing masyarakat.
- Rekam jejak pengabdian.
- Rekomendasi guru, ulama, atau pimpinan pesantren.
- Penerimaan masyarakat.
- Komitmen menjaga etika keulamaan.
Kontribusi terhadap Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas 2045 memerlukan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, sosial, budaya, dan moral.
Program Ekselensi Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku diharapkan melahirkan lulusan yang mampu:
- Memperkuat pendidikan Islam nasional.
- Meningkatkan kualitas guru agama.
- Mengembangkan penelitian dan inovasi pendidikan Islam.
- Menjaga kesinambungan sanad keilmuan.
- Merevitalisasi surau dan pesantren.
- Memperkuat moderasi beragama.
- Menjaga dan mengembangkan ABS-SBK.
- Menjadi pemimpin masyarakat
