![]() |
Oleh: Duski Samad
Refleksi Pelepasan Peserta Umrah Khadimul Haramain Al-Syarifain 1448 H/2026 M Selasa, 07072026 di Kedubes Saudi Arabia Jalan Rasuna Said Jakarta
Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Dialah yang mengatur langkah manusia, membuka pintu rezeki, dan memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk datang ke Baitullah. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan dapat sampai ke Tanah Suci, dan tidak sedikit yang secara lahiriah tampak mustahil justru memperoleh panggilan-Nya. Karena itu, umrah pada hakikatnya adalah pilihan Allah sebelum menjadi pilihan manusia.
Undangan resmi dari Khadimul Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar. Namun, lebih dari itu, kehormatan yang sesungguhnya adalah ketika Allah menerima seorang hamba sebagai ḍuyūf ar-Raḥmān (tamu-tamu Allah). Raja hanyalah perantara pelayanan, sedangkan yang memanggil pada hakikatnya adalah Allah SWT, Pemilik Ka'bah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu-tamu Allah. Dia memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya; mereka memohon kepada-Nya, lalu Dia mengabulkan permohonan mereka." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Hadis ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan jamaah haji dan umrah. Mereka bukan sekadar pelancong religi, melainkan tamu-tamu yang dimuliakan Allah. Karena itu, setiap langkah menuju Masjidil Haram hendaknya dipenuhi rasa syukur, kerendahan hati, istighfar, dan doa bagi keluarga, bangsa, serta kemaslahatan umat manusia.
Program umrah ini merupakan bentuk komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam memberikan penghormatan kepada tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara. Setiap tahun para ulama, guru besar, akademisi, dai, pimpinan organisasi Islam, dan pelayan umat diundang untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta memperkuat misi dakwah yang damai dan moderat.
Umrah Pertama: Awal Kelahiran Ruhani
Bagi mereka yang pertama kali menunaikan umrah, perjalanan ini merupakan awal kelahiran ruhani. Allah membukakan pintu ampunan, mempertemukan hamba dengan rumah-Nya, dan mengajaknya memperbarui kehidupan.
Rasulullah SAW,;
"Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, umrah pertama hendaknya menjadi titik balik kehidupan; meninggalkan dosa, memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, serta memulai lembaran baru sebagai hamba Allah yang lebih bertakwa.
Umrah Berulang: Memperbarui Janji kepada Allah
Bagi mereka yang telah beberapa kali berumrah, setiap perjalanan bukanlah pengulangan tanpa makna. Setiap umrah adalah kesempatan memperbarui taubat, memperhalus hati, memperdalam ma'rifat kepada Allah, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, dan memperteguh komitmen dakwah.
Yang dinilai Allah bukanlah berapa kali seseorang datang ke Makkah, melainkan sejauh mana setiap kepulangan dari Tanah Suci menghadirkan akhlak yang lebih mulia, keikhlasan yang lebih dalam, kepedulian sosial yang lebih besar, dan pengabdian yang semakin luas.
Kemuliaan Menghadiahkan Haji dan Umrah
Di antara amal yang sangat luhur ialah membantu atau menghadiahkan biaya haji dan umrah kepada orang lain, terutama orang tua, guru, ulama, dai, para penghafal Al-Qur'an, dan mereka yang berjasa bagi umat.
Rasulullah SAW bersabda:
"Man dalla 'alā khairin falahu mitslu ajri fā'ilih."
"Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim).
Karena itu, setiap orang yang menjadi sebab terlaksananya ibadah umrah memperoleh bagian pahala sesuai kemurahan Allah SWT. Memberangkatkan orang lain ke Tanah Suci merupakan investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir melalui setiap thawaf, sa'i, doa, dzikir, tilawah Al-Qur'an, dan amal saleh yang dilakukan oleh orang yang diberangkatkan.
Program undangan haji dan umrah yang diberikan oleh Khadimul Haramain Al-Syarifain kepada para ulama dan tokoh umat dari berbagai negara merupakan bentuk pelayanan kepada tamu-tamu Allah sekaligus ikhtiar memperkuat persaudaraan Islam dunia. Semoga Allah SWT menerima amal tersebut sebagai sedekah jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Amanah Menjadi Tamu Allah
Menjadi ḍuyūf ar-Raḥmān adalah kemuliaan yang tidak dapat dibeli dengan harta, tidak dapat diraih hanya dengan jabatan, dan tidak pula semata-mata diperoleh karena usaha manusia. Ia adalah pilihan dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Karena itu, kehormatan menerima undangan Khadimul Haramain Al-Syarifain hendaknya dipahami sebagai amanah, bukan kebanggaan. Amanah untuk semakin dekat kepada Allah, semakin mencintai Rasulullah SAW, semakin menguatkan ukhuwah Islamiyah, serta semakin mengabdikan ilmu, tenaga, dan pikiran bagi kemaslahatan umat.
Di Tanah Suci terdapat saat-saat yang mustajab untuk berdoa. Allah SWT berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186).
Karena itu, setiap jamaah hendaknya memperbanyak doa untuk kedua orang tua, keluarga, guru-guru, para pemimpin bangsa, keselamatan negeri, persatuan umat Islam, serta kedamaian dunia.
Allah SWT juga berfirman:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
"Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah." (QS. Al-Baqarah: 196).
Sepulang dari Tanah Suci, ukuran kemabruran bukanlah banyaknya foto, cerita perjalanan, atau berapa kali seseorang telah berumrah. Ukuran yang sesungguhnya adalah perubahan akhlak, bertambahnya keikhlasan, meningkatnya kepedulian kepada sesama, semakin kuatnya komitmen menjaga persatuan, serta semakin besarnya semangat melayani umat.
Semoga Allah SWT menerima ibadah seluruh tamu-Nya, mengabulkan doa-doa mereka, mengampuni dosa-dosa mereka, menjadikan umrah ini sebagai umrah yang mabrurah, mengokohkan istiqamah dalam dakwah, serta membalas segala pelayanan Khadimul Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman kepada para tamu Allah dengan pahala yang berlipat ganda.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
"Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."Āmīn yā Rabbal 'Ālamīn.07072026.
