![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Di antara pengalaman yang sangat berkesan selama berada di Madinah adalah mengunjungi The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization. Museum ini tidak sekadar menyajikan sejarah kehidupan Rasulullah SAW, tetapi menghadirkan sirah sebagai panduan membangun manusia dan peradaban.
Dengan teknologi digital yang modern, setiap pengunjung diajak menyaksikan bagaimana Rasulullah SAW menjalani kehidupan sehari-hari. Sunnah beliau tidak hanya dipahami sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai jalan hidup yang melahirkan kebersihan, kesehatan, keindahan, akhlak, dan kemajuan peradaban.
Salah satu bagian yang menarik adalah penjelasan tentang pakaian dan penampilan Rasulullah SAW. Museum menjelaskan bahwa Nabi SAW selalu memperhatikan keserasian berpakaian, kebersihan badan, penggunaan siwak, menjaga aroma mulut, menyisir rambut, menggunakan wewangian, serta mencintai kerapian. Semua itu menunjukkan bahwa Islam memandang kebersihan dan keindahan sebagai bagian dari keimanan. Seorang Muslim tidak cukup hanya benar akidahnya, tetapi juga harus menghadirkan penampilan yang bersih, rapi, dan menyenangkan.
Museum juga memperlihatkan makanan yang disukai Rasulullah SAW. Kurma, gandum, daging, makanan manis secukupnya, dan hidangan sederhana menjadi bagian dari pola hidup beliau. Pesannya sangat jelas, Islam mengajarkan keseimbangan dalam konsumsi, bukan kemewahan. Makanan bukan sekadar memenuhi selera, tetapi menjadi sarana menjaga kesehatan agar kuat beribadah dan berkarya.
Bagian lain memperkenalkan perabot dan perkakas Rasulullah SAW. Dari bejana air, sandal, jarum, pelana, hingga perisai dan kapak, semuanya menggambarkan kehidupan yang sederhana namun penuh manfaat. Kesederhanaan Rasulullah SAW bukan karena tidak mampu memiliki yang lebih baik, melainkan karena beliau mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi oleh ketakwaan dan akhlaknya.
Yang paling menyentuh adalah panel tentang keluhuran budi dan etika Rasulullah SAW. Di sana dijelaskan bagaimana beliau menghormati keluarga, membantu pekerjaan rumah, memperlakukan istri dengan kasih sayang, menghargai para pembantu, dan selalu mendoakan orang-orang yang melayaninya. Inilah akhlak yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah bagi seluruh umat manusia.
Allah SWT berfirman:
> لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
"Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagimu."
(QS. Al-Ahzab: 21)
Museum ini juga menampilkan citra Masjid Nabawi dari udara serta berbagai replika peralatan yang digunakan pada masa Rasulullah SAW. Semua itu memperlihatkan bahwa sejarah Islam dapat disampaikan dengan pendekatan ilmiah, visual, dan edukatif sehingga mudah dipahami oleh generasi masa kini.
Saya menyadari bahwa membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah beliau. Kecintaan yang sejati adalah menghidupkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari: menjaga kebersihan, berpenampilan rapi, hidup sederhana, makan secara seimbang, menghormati keluarga, berakhlak mulia, dan menebarkan kasih sayang kepada sesama.
Semoga setiap langkah di Museum Sirah Nabawiyah ini semakin menguatkan tekad kita untuk menjadikan Rasulullah SAW bukan sekadar tokoh sejarah yang dikagumi, tetapi teladan hidup yang diikuti. Sebab, ketika sunnah beliau hidup dalam diri umat, di situlah lahir masyarakat yang beradab, bangsa yang bermartabat, dan peradaban Islam yang kembali memberi rahmat bagi seluruh alam.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
