![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M dari 8 - 20 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillāh, pada Ahad Subuh, 12 Juli 2026, saya mengikuti kajian Subuh di Masjid Nabawi, sekitar Pintu Raja Fahd (Gate 22). Kajian tersebut disampaikan oleh seorang dai asal Indonesia dalam bahasa Indonesia. Tema utamanya adalah nikmat Allah SWT, yakni bagaimana seorang mukmin memandang setiap keadaan sebagai karunia yang mengandung hikmah.
Salah satu penjelasan yang menarik adalah tentang musim panas di Madinah. Ketika suhu siang hari mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, banyak jamaah menganggapnya sebagai ujian yang berat. Namun bagi masyarakat Madinah, panas justru dipandang sebagai nikmat Allah. Suhu tinggi merupakan faktor penting yang membantu proses pematangan buah kurma sehingga menghasilkan kualitas yang lebih baik, lebih manis, dan bernilai ekonomi tinggi.
Kajian ini mengingatkan bahwa tidak semua yang terasa berat merupakan keburukan. Allah menciptakan segala sesuatu dengan hikmah. Panas, dingin, hujan, maupun angin memiliki fungsi masing-masing dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
Penceramah kemudian mengaitkan pergantian musim dengan mobilitas manusia. Musim panas menjadi saat masyarakat melakukan rahlah menuju daerah yang lebih sejuk untuk beristirahat dan berwisata. Fenomena ini dihubungkan dengan firman Allah dalam Surah Quraisy:
> لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Ayat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan, perdagangan, keamanan, dan kemakmuran merupakan nikmat Allah yang semestinya mengantarkan manusia kepada ibadah dan rasa syukur.
Dalam beberapa salat berjamaah, saya juga mendapati imam membaca Surah Quraisy dan Surah An-Nashr. Pesan yang dapat ditangkap ialah bahwa keberhasilan ekonomi, keamanan, dan kemenangan harus selalu dikembalikan kepada Allah melalui ibadah dan syukur.
Pengalaman berada di Arab Saudi juga memperlihatkan bagaimana Visi Saudi 2030 diwujudkan dalam berbagai sektor kehidupan. Salah satu pernyataan yang sering dikemukakan dalam visi tersebut adalah:
> "Our ambition is to increase the capacity to host Umrah visitors from 8 million to 30 million every year."
"Ambisi kami adalah meningkatkan kapasitas pelayanan jamaah umrah dari sekitar 8 juta menjadi 30 juta jamaah setiap tahun."
Peryataan ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada jamaah umrah bukan hanya dipandang sebagai aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari transformasi pembangunan nasional Arab Saudi. Pengembangan transportasi, hotel, kawasan sekitar dua tanah suci, digitalisasi melalui aplikasi Nusuk, hingga peningkatan kualitas layanan merupakan bagian dari implementasi visi tersebut.
Selama mengikuti program Tamu Khadim Al-Haramain, saya juga mengamati karakter sistem pemerintahan Kerajaan Arab Saudi. Dalam berbagai kantor pemerintahan, hotel, museum, pusat layanan, hingga fasilitas umum, tampak foto-foto resmi Raja dan Putra Mahkota dipasang pada tempat-tempat yang terhormat. Dalam komunikasi birokrasi pun, penghormatan kepada Raja sebagai kepala negara dan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain (Pelayan Dua Tanah Suci) sangat menonjol.
Dari pengamatan tersebut terlihat bahwa birokrasi kerajaan membangun budaya pelayanan yang menempatkan Raja sebagai simbol kepemimpinan negara. Penghormatan itu tercermin dalam tata administrasi, etika pelayanan, penggunaan simbol-simbol negara, serta loyalitas aparatur dalam menjalankan kebijakan pemerintah. Dalam konteks ini, nasionalisme diwujudkan melalui dedikasi kepada negara sekaligus komitmen untuk melayani para tamu Allah yang datang dari seluruh dunia.
Bagi jamaah internasional, pelayanan yang diberikan dipahami sebagai bagian dari amanah Kerajaan dalam mengelola dua masjid suci. Sementara bagi umat Islam, jamaah haji dan umrah tetap dipandang sebagai dhuyufur Rahman (tamu-tamu Allah) yang datang memenuhi panggilan-Nya. Kedua perspektif ini berjalan berdampingan: pelayanan kepada jamaah merupakan amanah keagamaan sekaligus bagian dari kebijakan pembangunan nasional.
Dari seluruh pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa panas Madinah, kualitas kurma, Surah Quraisy, Visi Saudi 2030, dan budaya pelayanan Kerajaan sesungguhnya saling terhubung dalam satu pelajaran besar: nikmat Allah harus dikelola dengan ilmu, organisasi, kerja keras, dan rasa syukur. Alam menyediakan potensi, manusia mengelolanya dengan baik, dan hasilnya dikembalikan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT serta pelayanan kepada sesama.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
