![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Maghrib Masjidil Haram, Selasa, 14072026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Salah satu pelajaran paling berharga selama mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain bukan hanya banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi bagaimana waktu dimuliakan. Di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, jutaan manusia seakan berlomba bukan mengejar dunia, melainkan menjemput waktu sebelum waktu itu datang.
Judul tulisan ini terinspirasi oleh pemandangan yang hampir setiap hari saya saksikan. Berjam-jam sebelum azan berkumandang, pelataran masjid telah dipenuhi jamaah. Bahkan, untuk memperoleh tempat yang layak, banyak jamaah telah hadir sekitar dua jam sebelum waktu salat. Mereka duduk membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, atau sekadar menunggu dengan penuh ketenangan.
Fenomena ini semakin menguat ketika imam Masjidil Haram membaca Surah Al-Infithar dan Surah Al-'Ashr. Kedua surah tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia sangat terkait dengan waktu dan hari ketika seluruh urusan kembali kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3)
Sedangkan Surah Al-Infithar ditutup dengan firman Allah:
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
"Pada hari ketika seseorang tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu adalah milik Allah." (QS. Al-Infithar: 19)
Ayat "wal-amru yauma'idzin lillāh" mengingatkan bahwa seluruh kehidupan akhirnya akan kembali kepada Allah. Karena itu, seorang mukmin belajar menghargai setiap detik sebagai amanah yang kelak dipertanggung jawabkan.
Umrah sesungguhnya merupakan pendidikan karakter yang sangat efektif. Di Tanah Haram, seseorang dididik untuk menjemput waktu, bukan menunggu waktu. Budaya datang lebih awal menjadi latihan disiplin spiritual yang luar biasa. Kebiasaan ini seharusnya tidak berhenti di Makkah dan Madinah, tetapi dibawa pulang ke rumah, kantor, kampus, dan masyarakat.
Muncul pertanyaan menarik: apakah semangat hadir lebih awal didorong oleh harapan memperoleh pahala, atau karena pengaruh lingkungan? Kemungkinan keduanya benar. Harapan pahala membangkitkan motivasi batin, sedangkan lingkungan yang dipenuhi orang-orang saleh memperkuat perilaku positif. Dalam psikologi sosial, suasana kolektif yang baik akan membentuk kebiasaan yang baik pula.
Yang lebih mengagumkan ialah tertibnya jutaan manusia. Perbedaan bahasa, bangsa, warna kulit, dan status sosial seakan hilang ketika azan berkumandang. Semua bergerak menuju satu kiblat, satu imam, dan satu tujuan. Inilah bukti bahwa iman memiliki kekuatan menyatukan manusia.
Umrah juga mengajarkan kemampuan menerima kesulitan dengan lapang dada. Berjalan jauh, cuaca yang panas, kepadatan jamaah, antrean panjang, dan keterbatasan ruang diterima sebagai bagian dari ibadah. Di sinilah ilmu, iman, dan realitas sosial berpadu melahirkan kesabaran.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan itu tidak berhenti pada slogan, tetapi tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Haram. Saling memberi tempat, membantu jamaah lanjut usia, berbagi makanan, dan saling mendoakan menjadi pemandangan yang mengharukan.
Umrah juga menjadi jalan menjemput ilmu yang dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Sebagaimana doa para pemuda Ashabul Kahfi:
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami." (QS. Al-Kahfi: 10)
Rahmat dan petunjuk (ladunni) tidak hanya lahir dari banyaknya membaca, tetapi juga dari hati yang bersih, ibadah yang ikhlas, dan kesungguhan mendekat kepada Allah.
Lebih jauh lagi, umrah mendidik manusia untuk mencapai maqam ihsan, yaitu berbuat lebih baik daripada yang diwajibkan. Datang lebih awal, memberi jalan kepada orang lain, memperbanyak ibadah sunnah, menjaga kebersihan, menahan emosi, serta membantu sesama adalah manifestasi ihsan.
Allah SWT berfirman:
وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"Berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan." (QS. Al-Baqarah: 195)
Dalam tasawuf, ihsan merupakan buah dari muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat setiap gerak dan langkah manusia. Karena itu, seorang yang menjemput waktu hakikatnya sedang menjemput ridha Allah.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari umrah bukan sekadar mampu melaksanakan tawaf, sa'i, atau mencium Hajar Aswad. Yang jauh lebih penting ialah membawa pulang budaya menghormati waktu, membangun ukhuwah, memperbanyak kesabaran, menjemput ilmu, dan membiasakan ihsan.
Semoga ketika kita kembali ke tanah air, kita tetap menjadi pribadi yang tidak menunggu waktu, tetapi menjemput waktu, karena kita sadar bahwa pada akhirnya "wal-amru yauma'idzin lillāh"—segala urusan pada hari itu adalah milik Allah semata.
