![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Undangan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdul Aziz
08 - 20 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung."
Senin, 6 Juli 2026 pukul 16.00 WIB, roda pesawat Batik Air yang membawa penulis dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Bandara Soekarno-Hatta mulai berputar meninggalkan bumi Ranah Minang. Bagi orang lain, mungkin ini hanyalah sebuah perjalanan udara. Namun bagi penulis, inilah langkah memenuhi panggilan Allah SWT menuju Tanah Suci sebagai tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdul Aziz.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan hati. Dari kesibukan dunia menuju rumah Allah. Dari rutinitas kehidupan menuju ruang munajat yang paling mulia. Dari ikhtiar manusia menuju penyerahan diri sepenuhnya kepada Rabb semesta alam.
Allah SWT berfirman:
> وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus; mereka datang dari segenap penjuru yang jauh."(QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap tamu Allah sesungguhnya dipanggil oleh-Nya. Tidak ada seorang pun mampu datang ke Baitullah hanya karena kekuatan materi, jabatan, atau kedudukan. Semua berawal dari iradah Allah.
Nikmat ini menjadi semakin bernilai apabila disyukuri. Allah SWT menegaskan:
> لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
"Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu."
(QS. Ibrahim: 7)
Undangan ini bukan sekadar kehormatan pribadi, tetapi amanah yang harus dijawab dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan pengabdian yang lebih besar kepada umat.
Umrah, Ziarah, dan Spirit Dakwah
Umrah sering disebut sebagai haji kecil, tetapi kemuliaannya tidaklah kecil. Rasulullah SAW bersabda:
> "Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya."
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalamperjalanan ini, umrah bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga perjalanan spiritual yang memperbaharui jiwa.
Di Madinah, hati akan bergetar ketika berdiri di hadapan makam Rasulullah SAW. Di Makkah, mata akan kembali menatap Ka'bah, kiblat seluruh kaum muslimin. Jejak-jejak sejarah Islam mengingatkan kembali betapa berat perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan kalimat tauhid.
Karena itu, ziarah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi membangkitkan semangat untuk melanjutkan perjuangan dakwah pada masa kini.
Umrah juga mempertemukan kaum muslimin dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, dan budaya dalam satu pakaian ihram yang sama. Semua berdiri sejajar di hadapan Allah. Di sanalah ukhuwah Islamiyah menemukan makna yang paling nyata.
Hadiah Terindah Menjelang Usia 66 Tahun
Perjalanan ini memiliki makna yang sangat mendalam karena berlangsung menjelang milad penulis yang ke-66 pada 18 Juli 2026.
Tidak ada hadiah yang lebih indah daripada dipanggil Allah menjadi tamu-Nya pada usia yang semakin matang. Semoga usia yang bertambah menjadi usia yang semakin dekat kepada Allah, semakin bermanfaat bagi umat, dan semakin istiqamah dalam dakwah.
Doa untuk Keluarga dan Umat
Di hadapan Ka'bah nanti, penulis membawa doa-doa yang paling dalam.
Semoga Allah SWT mengaruniakan pendamping hidup terbaik bagi putri tercinta, yang mampu saling mencintai karena Allah, saling memuliakan, saling menguatkan dalam iman, dan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Doa juga dipanjatkan bagi keluarga besar, para guru, sahabat, murid, jamaah, dan seluruh masyarakat Sumatera Barat agar senantiasa memperoleh rahmat, kesehatan, keberkahan, dan perlindungan Allah SWT.
Mengisi Ulang Energi Dakwah
Setiap perjalanan ke Tanah Suci selalu menjadi momentum recharging ruhani.
Semangat dakwah harus terus diperbaharui.
Dari deret hitung menuju deret ukur, agar manfaat dakwah berkembang secara eksponensial.
Dari dakwah personal menuju dakwah institusional, agar kebermanfaatannya lebih luas.
Dari pengelolaan amatir menuju profesional, agar dakwah semakin berkualitas.
Dari bekerja sekadar karena kebiasaan menuju dakwah lillāh, fillāh, wa ma'allāh: karena Allah, di jalan Allah, dan bersama Allah.
Pada akhirnya, semua kembali kepada-Nya.
Minallāh, ilallāh, lillāh, billāh, wa ma'allāh.
Dari Allah kita berasal, kepada Allah kita kembali, untuk Allah kita beramal, dengan pertolongan Allah kita bergerak, dan bersama Allah kita menjalani kehidupan.
Semoga perjalanan ini menjadi perjalanan yang penuh keberkahan, diterima seluruh amal ibadahnya, menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, serta menghadirkan semangat baru untuk terus mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
"Ya Allah, kepada-Mu kami berserah diri. Mudahkanlah perjalanan ini, terimalah ibadah kami, jadikanlah kami termasuk tamu-tamu-Mu yang Engkau cintai, dan kembalikanlah kami ke tanah air dengan membawa kemabruran, keberkahan, dan semangat dakwah yang lebih kuat. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn."
