![]() |
Oleh: Duski Samad
Transit to Jakarta
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Tepat pukul 00.45 waktu Doha, pesawat Qatar Airways yang membawa rombongan dari Jeddah mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Hamad, Doha, Qatar. Setelah meninggalkan Tanah Suci, kota ini menjadi persinggahan sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Indonesia.
Kesan pertama yang terasa adalah kemegahan dan ketertiban. Bandara ini dioperasikan dengan sistem yang sangat modern, canggih, luas, dan efisien. Teknologi digital tampak hadir di hampir setiap layanan, mulai dari informasi penerbangan, pemeriksaan keamanan, pengelolaan bagasi, hingga pelayanan kepada penumpang. Arus ribuan penumpang dari berbagai negara bergerak dengan tertib dalam suasana yang nyaman dan tenang.
Pelayanan imigrasi berlangsung cepat dan profesional. Petugas laki-laki dan perempuan bekerja di berbagai lini pelayanan dengan pembagian tugas yang jelas. Proses pemeriksaan dokumen berjalan tertib tanpa antrean panjang yang melelahkan. Kehadiran petugas perempuan di bagian imigrasi, pelayanan bandara, dan awak pesawat memperlihatkan keterlibatan aktif kaum perempuan dalam ruang kerja publik di Doha.
Hal yang menarik untuk dicermati adalah penampilan para perempuan karier tersebut. Sebagian dari mereka bekerja tanpa mengenakan nikab, bahkan ada yang tidak berjilbab, sesuai dengan kebijakan tempat kerja, seragam profesi, dan latar belakang kebangsaan masing-masing. Bandara internasional memang menjadi ruang perjumpaan budaya, tradisi, dan cara berpakaian yang sangat beragam. Kenyataan ini mengajarkan bahwa kehidupan masyarakat Muslim di berbagai negara memiliki corak sosial dan ekspresi keagamaan yang tidak selalu sama.
Arsitektur bandara memadukan kemewahan dengan fungsi. Ruang-ruang terbuka yang luas, pencahayaan yang elegan, karya seni, taman-taman dalam ruangan, serta berbagai fasilitas modern menjadikan bandara ini bukan sekadar tempat transit, melainkan wajah peradaban yang menyambut dunia.
Barang-barang yang dijual, jenis makanan yang tersedia, suasana pertokoan, serta iklim di dalam bandara tidak jauh berbeda dengan bandara-bandara internasional lainnya. Berbagai merek global, restoran cepat saji, kedai kopi, makanan Timur Tengah, makanan Asia, toko suvenir, parfum, pakaian, dan kebutuhan perjalanan tersedia dengan kemasan pelayanan internasional.
Suhu di dalam bandara terasa sejuk dan nyaman karena seluruh ruangan dikendalikan oleh sistem pendingin udara. Penumpang yang datang dari berbagai negara hampir tidak merasakan kondisi panas gurun di luar bandara. Keseragaman fasilitas, makanan, tata ruang, dan layanan memperlihatkan bahwa globalisasi telah membentuk standar baru dalam pengelolaan pusat-pusat perjalanan dunia.
Doha berada pada posisi yang sangat strategis sebagai penghubung antara Asia, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika. Karena itu, bandara ini setiap hari menjadi tempat perjumpaan berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, budaya, dan agama. Di tempat ini tampak nyata bahwa kemajuan teknologi mampu menghadirkan pelayanan yang cepat tanpa menghilangkan kenyamanan manusia.
Doha membawa pesan agar manusia tidak berhenti belajar dan melihat dunia luar. Orang Minangkabau sejak dahulu telah mengingatkan:
«“Jauah bajalan banyak diliek, lamo hiduik banyak diraso.”»
Jauh berjalan akan memperluas pandangan, sedangkan panjang pengalaman hidup akan memperkaya rasa dan kebijaksanaan. Perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan proses membaca manusia, memahami peradaban, mengamati kemajuan, dan mengambil pelajaran dari kehidupan masyarakat lain.
Dengan melihat dunia luar, seseorang akan menyadari bahwa setiap bangsa memiliki kelebihan, kekurangan, cara hidup, dan strategi sendiri dalam membangun kemajuan. Ada bangsa yang unggul dalam teknologi, ada yang maju dalam disiplin pelayanan, ada yang kuat dalam pendidikan, dan ada pula yang kokoh dalam memelihara tradisi serta nilai spiritual.
Bagi seorang musafir, persinggahan di Doha bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga ruang perenungan. Setelah menikmati kekhusyukan di Haramain, kini perjalanan memasuki babak kepulangan. Di tengah kemegahan fasilitas dunia modern, hati tetap bertanya: nilai apakah yang akan dibawa pulang dari Tanah Suci?
Perjalanan umrah mengajarkan bahwa kemajuan peradaban dan kekuatan spiritual tidak boleh dipertentangkan. Islam mendorong umatnya membangun ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola, dan pelayanan publik yang unggul, sekaligus menjaga akhlak, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
«“Dan carilah pada apa yang telah dianugerah kan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”(QS. Al-Qashash: 77)»
Doha menjadi pengingat bahwa dunia dapat dibangun dengan sangat maju melalui ilmu, disiplin, inovasi, keterbukaan, dan manajemen yang baik. Namun, perjalanan dari Haramain juga mengingatkan bahwa puncak kemajuan manusia adalah ketika kemajuan dunia berjalan seiring dengan kedalaman iman, kemuliaan akhlak, dan pengabdian kepada sesama.
Persinggahan ini meneguhkan bahwa perjalanan adalah sekolah kehidupan. Bandara menjadi ruang belajar, manusia menjadi kitab yang terbuka, dan perbedaan menjadi bahan renungan untuk memperluas pandangan. Tidak semua yang berbeda harus ditolak, dan tidak semua yang modern harus diterima tanpa sikap kritis. Semuanya perlu dibaca dengan ilmu, iman, kebijaksanaan, dan kedewasaan.
Semoga setiap langkah kepulangan ini tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa cahaya nilai-nilai Haramain, keluasan pandangan dari perjalanan, serta semangat membangun pelayanan yang lebih baik untuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan peradaban.20072026.
