![]() |
| Komplek makam Abdurrahman Tuanku Sutan di Badano, Sungai Rotan, satu komplek dengan makam Syekh Muqaddam atau Syekh Sungai Rotan. |
Pariaman, -- Abdurrahman Tuanku Sutan tak banyak meninggalkan jejak digital. Kiprah dan pengabdian panjangnya di Sungai Rotan, Kota Pariaman, sepertinya tidak banyak ditulis orang dulunya, sehingga beliau sulit untuk dilacak. Namun, beliau adalah generasi pertama yang datang dari Koto Dalam, Padang Sago ke Sungai Rotan.
Abdurrahman Tuanku Sutan diperkirakan lahir 1848. Beliau seumuran dengan Muhammad Yusuf Tuanku Sutan, ulama terkenal di Sungai Rotan, guru Syekh H. Rasul. Tersebut pula, Abdurahman Tuanku Sutan ini sama mengaji dengan Muhammad Yusuf Tuanku Sutan di Maninjau, bersama Syekh Muhammad Amrullah (1840-1909) yang masyhur dengan Tuanku Kisai.
Di samping belajar syariat lewat berbagai kitab kuning, Abdurrahman Tuanku Sutan juga belajar kajian Tarekat Naqsabandiyah. Tuanku Kisai terkenal sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiyah di Maninjau, Kabupaten Agam.
Termasuk dengan Syekh Muqaddam (1842-1910), Abdurrahman Tuanku Sutan ini pernah berguru. Sebab, Syekh Muqaddam atau Syekh Sungai Rotan ini lebih dulu mendirikan surau di Sungai Rotan. Kelak, pulang dari Maninjau, Abdurrahman Tuanku Sutan mendirikan surau pribadi yang dinamai dengan Surau Tuanku Sutan, di Sungai Rotan.
Surau Tuanku Sutan, kini sudah tidak ada. Yang ada hanya jejak surau, dan di samping surau itu dibangun Madjid Mukhlisin, Kajai, Sungai Rotan. Para murid dan jemaah yang pernah suluk dan mengaji di Surau Abdurrahman Tuanku Sutan pun sudah tak seberapa yang tinggal dan beraktivitas di kampung.
Hanya sedikit dari jemaah yang pernah tahu dan mengaji dengan beliau Abdurrahman Tuanku Sutan itu. Meski sedikit, cerita hebat dan kisah kharikul 'adah yang ditinggalkan Abdurrahman Tuanku Sutan, luar biasa hebat. Kisah beliau Abdurrahman Tuanku Sutan adalah ulama yang ditakuti Belanda, masih tersimpan rapi di kalangan yang tua-tua di Sungai Rotan itu.
Sebelum Indonesia merdeka, pergerakan ulama Tarekat Naqsyabandiyah di Sungai Rotan, Pariaman berpusat pada penguatan jaringan ulama-santri, pendidikan Islam tradisional (surau), dan pembinaan moral masyarakat. Ulama setempat membangun benteng spiritual dan intelektual guna melawan kebodohan serta pengaruh kolonialisme Belanda. Dinamika dan pergerakan ulama di wilayah ini terlihat dalam beberapa aspek penting: Pusat Transmisi Keilmuan: Ulama di Sungai Rotan, seperti Tuanku Sutan Muhammad Yusuf, dan Abdurrahman Tuanku Sutan berperan sebagai simpul penting dalam rantai keilmuan Islam. Mereka menjadi rujukan bagi ulama-ulama besar pembaharu yang kemudian belajar langsung ke Mekkah, seperti Syekh Muhammad Amrullah dan putranya Haji Rasul (Syekh Abdul Karim Amrullah).
Gerakan Intelektual: Melalui surau-surau, ulama tarekat mendidik masyarakat dengan memadukan pengajaran tasawuf (pensucian jiwa) dengan ilmu fikih, tauhid, dan bahasa Arab. Sistem basuluak (berkhalwat) di surau menjadi metode utama untuk membangun ketahanan spiritual para pengikutnya agar tidak mudah terpengaruh oleh budaya penjajah.
Nasionalisme dan Anti-Kolonialisme: Ulama Naqsyabandiyah di Nusantara kerap menjadikan amalan tarekat, zikir, dan hizib sebagai sarana membangkitkan semangat juang, keberanian, dan persatuan umat. Di Minangkabau, jaringan tarekat juga menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan kesadaran anti-penjajahan.
Keistimewaan
Suatu ketika, Belanda memberlakukan jam malam. Segerombolan anak Indang Sungai Rotan ditangkap Belanda, karena tak mengindahkan aturan yang dibuat pemerintah. Anak Indang itu ditangkap saat alek nagari. Orang banyak hanya melihat, tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan.
Sungai Rotan (saat ini menjadi salah satu wilayah di Pariaman) merupakan salah satu basis penting dalam sejarah penyebaran Islam dan kebudayaan di Pariaman Timur.
Orang mengadu ke Abdurrahman Tuanku Sutan, menceritakan kejadian semalam, banyak anak Indang nagari ini ditangkap kaum penjajah. Mendengar pengaduan itu, Abdurrahman Tuanku Sutan merasa dilecehkan oleh Belanda. Beliau bergegas saja pergi ke tempat, dimana anak Indang itu ditahan Belanda.
Dalam diplomasi yang dilakukan Abdurrahman Tuanku Sutan dengan pihak Belanda, pun tempo waktu yang cukup singkat, masyarakat hanya tahu kalau anak Indang itu dilepas kembali. Indang adalah kesenian, yang banyak membaca kaji. Bagi Abdurrahman Tuanku Sutan, Indang harus dilestarikan. Indang adalah budaya yang lahir dan adanya di Piaman.
Sentimen Anti-Kolonial: Pada masa penjajahan Belanda, para ulama, santri, dan seniman tradisional (termasuk para pemain Indang) sering kali dicurigai oleh pemerintah kolonial Belanda. Kesenian tradisional dan pengajian kerap dicurigai menjadi tempat berkumpulnya massa untuk menyusun perlawanan atau menyebarkan sentimen anti-Belanda.
Kesenian Indang di Piaman diperkenalkan sekitar abad ke-13 atau ke-14 oleh Syekh Burhanuddin sebagai media dakwah Islam. Tokoh agama bernama Rapa’i turut mempopulerkan tarian ini melalui perayaan lokal seperti Tabuik di pesisir Sumatera Barat. Tarian yang identik dengan alat musik rebana kecil ini merupakan bentuk akulturasi budaya Minang dan ajaran Islam. Sejarah dan perkembangannya memiliki beberapa keunikan tersendiri.
Asal-usul Nama: Kata "Indang" berasal dari alat musik tepuk sejenis rebana kecil yang digunakan oleh para penari untuk mengiringi alunan shalawat dan syair-syair Islam. Media Dakwah: Tarian ini awalnya berkembang di lingkungan surau dan digunakan sebagai sarana strategis untuk menarik pemuda dan masyarakat luas agar lebih mengenal ajaran agama Islam. Akulturasi Budaya: Kesenian ini mencerminkan perpaduan antara unsur seni lokal Minangkabau dan nilai-nilai keagamaan yang dibawa oleh para ulama pada masa itu.
Dalam sejumlah catatan disebutkan bahwa Tari Indang diciptakan oleh Syekh Burhanuddin, yaitu seorang pendakwah Islam di Tanah Minang.
Pada masa lalu, Tari Indang ini berfungi sebagai media komunikasi dalam menyampaikan ajaran Islam dari pendakwah kepada masyarakat luas. Namun dalam perkembangannya, Tari Indang ini menjadi hiburan pada sejumlah acara seperti pernikahan, penyambutan tamu, perpisahan, dan sebagainya.
Melihat kondisi itu, masyarakat kian yakin kalau Abdurrahman Tuanku Sutan adalah orang bagak, ulama yang bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan umat dan masyarakatnya. Bila hari hujan, sering dan acap masyarakat melihat Abdurrahman Tuanku Sutan ini berjalan tanpa memakai payung. Hujan lebat, beliau terus saja berjalan tak pakai payung, tapi terlihat beliau tidak basah kuyup.
Keluarga
Abdurrahman Tuanku Sutan diperkirakan wafat tahun 1932, beliau berusia 84 tahun, dimakamkan di Badano, satu komplek makam dengan Syekh Muqaddam atau Syekh Sungai Rotan. Dari tujuh orang istrinya, terlahir 24 anak, salah seorang anaknya bernama Tuanku Haji Muhammad Luthan. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan H. Baharuddin Tuanku Bagindo, Jumat 26 Juni 2026 di Kaluwaik, Sungai Rotan. Baharuddin Tuanku Bagindo adalah Ketua KAN IV Koto Sungai Rotan, pernah jadi Pimpinan Baznas Kota Pariaman, disamping sebagai pendakwah terkenal dan terpopuler di Piaman. Baharuddin Tuanku Bagindo adalah dunsanak dengan Abdurrahman Tuanku Sutan, generasi kesekian dibawahnya, bersuku Koto datang dari Koto Dalam. Baharuddin Tuanku Bagindo juga tercatat sebagai ulama lulusan Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok, Sungai Sariak, Padang Pariaman.
2. https://regional.kompas.com/read/2022/02/24/191600178/tari-indang-asal-sumbar-sejarah-gerakan-dan-makna-filosofinya?page=all.
3. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/tari-indang-dan-
jejak-tradisi-islami-dalam-budaya-minangkabau/
