![]() |
| Syekh Khaidir Pakiah Kayo |
MU-ONLINE, Solok, -- Syekh H. Khaidir Pakiah Kayo adalah ulama besar, pendiri sekaligus guru besar atau Syaikhul Ma'had Nurul Huda, Bukit Tandang, Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Beliau Khaidir menunaikan rukun Islam kelima, naik haji ke Mekkah, dan wafat di tanah suci setelah menyempurnakan semua rangkaian ibadah haji, 12 Mei 1998, bertepatan 14 Muharram 1419 H. Keberangkatan beliau ke Mekkah, dilepas langsung oleh Bupati Solok Gamawan Fauzi.
Masa Kecil
Khaidir Pakiah Kayo lahir 8 September 1924 dari pasangan Manan, ayahnya dan Jai, ibunya.beliau hanya berdua kakak beradik, Kanasu nama kakanya. Setelah berusia tujuh tahun, Khaidir Pakiah Kayo memulai langkah pendidikannya di Sekolah Rakyat dan Surau Ambacang, Surau Tanah Sirah, serta Surau Buah Gayang.
Tiga surau itu setidaknya mampu menjadikan fondasi dasar keagamaan Khaidir Pakiah Kayo yang kelak menjadi ulama di Bukit Tandang. Ketika surau itu berada di Bukit Tandang, tanah kelahiran Khaidir Pakiah Kayo. Tamat mengaji di surau itu, pada saat bersamaan, Sekolah Rakyat yang diikutinya selama tiga tahun juga selesai dan tamat dengan segala suka duka di tengah Indonesia belum menjadi sebuah negara besar.
Setelah tamat sekolah dan mengaji di kampung, Bukit Tandang, Kabupaten Solok, tahun 1938 Khaidir Pakiah Kayo merantau ke Payakumbuh. Payakumbuh dikenal sebagai Luhak Nan Bungsu, pusat ibukota Kabupaten Limapuluh Kota. Di sana, Khaidir Pakiah Kayo berinduk semang ke seorang polisi. Selama tiga tahun di Kota Galamai itu, Khaidir Pakiah Kayo mendapatkan kepandaian membuat dan memasak kulit untuk dijadikan sepatu. Sekaligus beliau pandai dan lihai membuat payung, untuk menggelar dagangan para pedagang di pasar-pasar rakyat.
Melihat dapat kepandaian demikian, induk semangnya kian sayang dan selalu memperhatikan Khaidir Pakiah Kayo muda. Sampai disuruh Khaidir Pakiah Kayo masuk tentara, tapi Khaidir Pakiah Kayo tidak minat dan tidak punya keinginan untuk jadi tentara.
Pada tahun 1938, Kota Payakumbuh berada di bawah kekuasaan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dan berfungsi sebagai salah satu pusat administrasi serta simpul ekonomi penting di kawasan Sumatras Westkust (Pantai Barat Sumatera).
Transportasi dan Infrastruktur Modern
Stasiun Kereta Api Aktif: Yang saat itu ditulis Pajakoemboeh) menjadi stasiun ujung yang sangat sibuk untuk rute Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh. Jalur ini melayani kereta uap untuk pengangkutan hasil bumi dan mobilisasi pelancong Eropa yang datang dari Pelabuhan Teluk Bayur.
Jalan Labuah Luruih: Ruas jalan lintas utama dari arah Bukittinggi menuju Payakumbuh sudah tertata rapi sebagai jalur penghubung darat-darat yang vital.
Penutupan Jalur Limbanang: Jalur rel lanjutan dari Payakumbuh menuju Limbanang sepanjang 20 kilometer yang sebelumnya digunakan untuk menjangkau tambang emas sudah resmi dinonaktifkan sejak tahun 1933 karena sering terdampak banjir dan kerusakan jembatan.
Pusat Perekonomian dan Pasar Tradisional
Pasar Padat Aktivitas: Pasar tradisional Payakumbuh menjadi pusat bertemunya para pedagang lokal dan hasil perkebunan. Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi hasil tani, kerajinan anyaman dari tumbuhan kumbuh, ternak, dan kopi.
Sektor Angkutan: Meskipun sudah ada kereta api, moda transportasi tradisional seperti pedati yang ditarik kerbau atau sapi tetap menjadi tulang punggung utama untuk mengangkut barang dari nagari-nagari sekitar menuju pusat kota.
Kehidupan Sosial, Politik, dan Pendidikan
Sistem Pemerintahan: Kota dikendalikan oleh struktur kolonial melalui pejabat Demang atau Controleur Belanda yang bekerja sama dengan kepala nagari setempat (seperti sistem kepemimpinan tradisional Dt. Palo Gaek di wilayah sekitar Limapuluh Kota).
Fasilitas Pendidikan: Sudah berdiri sekolah-sekolah bergaya modern seperti Hollandsch-Inlandsche School (HIS) swasta dan sekolah-sekolah Islam berbasis pergerakan nasional.
Pusat Pergerakan: Pola pikir masyarakatnya sangat dinamis. Pengaruh organisasi seperti Muhammadiyah dan persatuan guru lokal tumbuh subur, melahirkan tokoh-tokoh terpelajar dan sastrawan lokal.
Pulang Kampung dan Mengaji ke Talawi
Setelah tiga tahun di Payakumbuh, Khaidir Pakiah Kayo pulang kampung ke Bukit Tandang. Kepandaian dan keterampilan yang didapatkannya di Payakumbuh, dikembangkannya di Bukit Tandang. Lumayan, banyak payung buat pedagang yang diselesaikannya. Hanya saja, aktivitas membuat itu di kampung tak bisa pula lama dilakukannya.
Pikirannya banyak ke surau dan mengaji, sehingga bekerja membuat payung dan memasak kulit untuk dijadikan sepatu, dihentikannya. Semangatnya untuk mengaji tak bisa dilawan. Maka berangkat beliau ke Talawi, Kota Sawahlunto. Mengaji ke Talawi berumur 17 tahun sekitar 1940, masih dibawah Pemerintahan Kolonial Belanda. Lima orang beliau sama berangkat dari Bukit Tandang Talawi. Yakni, Ungku Mudo Kasim, Su'ud Rajo Gaga, Kuna Pakiah Sati, Jumat Angku Mudo, dan beliau Khaidir Pakiah Kayo.
Di Talawi, Sawahlunto beliau mengaji dengan Tuanku Mudo Tampuah, Tuanku Marasi'ah, dan Tuanku Ishaq. Beliau mengaji sama sekali tidak dibiayai oleh orangtuanya. Tapi, Khaidir Pakiah Kayo tak kehilangan akal. Beliau sudah berpengalaman di Payakumbuh, berpengalaman soal berguru dan berinduk semang.
Di samping mengaji di Surau Talawi, Sawahlunto, di luar surau itu, beliau juga berguru dan berinduk semang ke Sutan Pandeka dan Angku Suik. Sutan Pandeka dan Angku Suik di Sawahlunto adalah seorang tokoh saudagar dan sekaligus guru silat. Banyak anak muda dan masyarakat yang belajar silat dengan beliau berdua itu, termasuk Khaidir Pakiah Kayo.
![]() |
| Santri Pondok Pesantren Nurul Huda, Bukit Tandang rentang 1980-1990 foto bersama dengan Syaikhul Ma'had Syekh Khaidir Pakiah Kayo. |
Tujuh tahun lamanya Khaidir Pakiah Kayo menuntut ilmu di Talawi, Sawahlunto. Beliau tersebut sebagai anak siak yang rajin mengaji, tak mau absen belajar silat, tak ingin pula meninggalkan usahanya. Rajin mengaji, sungguh belajar, rezekinya juga meningkat dan bertambah. Hasil uang usahanya banyak beliau investasikan ke pedagang tembakau di Sawahlunto.
Dinilai kaya dan murah rezeki, oleh guru silatnya, Sutan Pandeka, Khaidir diberi gelar kehormatan "Pakiah Kayo". Pakiah di darek, Solok, Sijunjung, Sawahlunto sama dengan Tuanku di Padang Pariaman. Kayo, sama dengan kaya, banyak harta.
Pada tahun 1940, kondisi pendidikan surau dan silat di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat berada dalam fase akulturasi budaya yang sangat kuat antara tradisi adat Minangkabau dan gelombang modernisasi Islam. Sebagai daerah kelahiran tokoh bangsa Mohammad Yamin, Talawi mencerminkan dinamika wilayah rantau dan industri (dekat pusat tambang batu bara Ombilin) yang responsif terhadap perubahan sosial di akhir masa kolonial Belanda.
Pendidikan Surau: Transisi dari Tradisional ke Madrasah Klasikal
Pada tahun 1940, fungsi surau di Talawi telah mengalami diferensiasi dan pembaharuan akibat pengaruh gerakan Kaum Muda di Minangkabau.
Dua Sistem yang Berjalan Berdampingan: Di satu sisi, surau tradisional (tempat mengaji duduk/halaqah) tetap bertahan untuk pengajaran dasar Al-Qur'an dan ilmu fikih dasar. Di sisi lain, banyak surau yang bertransformasi atau mengadopsi sistem madrasah/sekolah modern (sistem kelas, memakai bangku, dan kurikulum terstruktur).
Lembaga pendidikan Islam di sekitar Sawahlunto pada tahun 1940 dipengaruhi oleh perkembangan organisasi seperti Sumatera Thawalib, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), dan Muhammadiyah. Surau tidak lagi hanya mengajarkan syarak (agama) secara pasif, tetapi juga menjadi pusat diskusi pemikiran modern dan kesadaran nasionalis-religius menentang kolonialisme.
Pusat Komunitas Pemuda: Surau tetap menjadi tempat wajib bagi anak laki-laki Minangkabau yang menginjak usia akil balig untuk tidur di malam hari. Di sinilah karakter, kemandirian, dan adab mereka ditempa. Pendidikan Silat: "Sasaran" sebagai Benteng Pertahanan dan Adat.
Pendidikan pencak silat (disebut juga mancak) di Talawi pada tahun 1940 tidak dapat dipisahkan dari keberadaan surau. Latihan silat dilakukan di sasaran (gelanggang terbuka) yang biasanya terletak tidak jauh dari surau atau rumah gadang.
Filosofi Berdampingan (Lahir Silat, Batin Sembahyang): Pada tahun 1940, seorang pemuda belum dianggap "sempurna" jika hanya menguasai agama di surau tanpa menguasai silat di sasaran. Guru silat (Tuanku Guru/Pandeka) sering kali juga merupakan tokoh yang taat agama di surau.
![]() |
| Tuanku Zainal, Ketua alumni Pondok Pesantren Nurul Huda Bukit Tandang memberikan sambutan, sebelum zikir bersama, dalam haul Syekh Khaidir Pakiah Kayo, Selasa malam kemarin di Masjid Nurul Huda. |
Fungsi Praktis Menjelang Perang: Memasuki dekade 1940-an, tensi politik dunia dan Hindia Belanda sedang memanas (menjelang runtuhnya Belanda dan masuknya Jepang). Pendidikan silat di Talawi diperketat bukan hanya sebagai seni tata krama adat, melainkan sebagai persiapan fisik dan mental pemuda untuk membela nagari (pertahanan diri fisik).
Gaya Silat Lokal: Di kawasan Sawahlunto dan sekitarnya, aliran silat yang diajarkan umumnya berakar dari Silek Pauah, Silek Kurambik, atau variasi Silek Harimau yang mengandalkan kuda-kuda rendah, kelincahan, dan pemanfaatan ruang sempit. Di Talawi tahun 1940, hubungan keduanya diringkas dalam pepatah adat: "Syarak mangato, adat mamakai". Surau mengisi dada para pemuda dengan iman, ilmu tauhid, dan Al-Qur'an (ilmu batin), sedangkan sasaran silat membekali mereka dengan ketangkasan fisik, ketahanan, dan kemampuan membela diri (ilmu lahir). Kombinasi inilah yang melahirkan generasi intelektual sekaligus pejuang tangguh dari kawasan Sawahlunto pada masa pergerakan kemerdekaan.
Mengaji ke Sungai Sariak dengan Syekh Tawaf Tuanku Sidi
Setelah tujuh tahun di Talawi, Sawahlunto, belajar banyak soal kitab kuning, sampai pandai bela diri lewat kemahiran ilmu silat, atas izin dan restu guru dan induk semangnya, Khaidir Pakiah Kayo pindah dan meningkatkan ilmu pengetahuannya ke Sungai Sariak, tepatnya Surau Syekh Tawaf Tuanku Sidi di Buluah Kasok yang nama formalnya, Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah.
Tepatnya, tahun 1949, Khaidir Pakiah Kayo pindah mengaji ke Sungai Sariak. Sebelumnya, saat pulang dari Talawi, Sawahlunto, beliau menetap di kampung, Bukit Tandang selama tujuh tahun. Pada tahun 1956, beliau pulang kampung, sekaligus diantar ke kampung oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi, setelah dikukuhkan jadi tuanku. Jadi, di Sungai Sariak, beliau mengaji selama tujuh tahun. Tentunya, masa yang cukup lama dan panjang dalam menuntut ilmu. Tujuh tahun di Talawi, Sawahlunto, tujuh tahun pula di Sungai Sariak, Padang Pariaman.
Surau Atok Ijuak pertama kali yang beliau tepati saat pulang dari Sungai Sariak pada tahun 1956 itu. Tak lama di kampung, tak berbilang tahun lamanya di kampung saat diantar gurunya, Syekh Tawaf Tuanku Sidi, beliau diminta mengajar di Surau Tampaik Gaek, Syekh Amiluddin, Pudak, Kabupaten Sijunjung.
Khaidir Pakiah Kayo pindah mengajar ke Pudak, Sijunjung. Dari 1956-1973, beliau Khaidir Pakiah Kayo berada di Sijunjung. Termasuk anak siak yang ikut dari Sungai Sariak, juga ikut ke Sijunjung. Selama di Pudak, Sijunjung tercatat anak siak yang mengaji dengannya mencapai 60 orang. Tersebut nama Muhammad Zen Tuanku Sutan, anak siak asal Tandikek yang ikut Khaidir Pakiah Kayo dari Sungai Sariak, terus ke Sijunjung.
Artinya, Khaidir Pakiah Kayo mengajar di Sijunjung selama 17 tahun. Setelah tahun 1974, beliau balik ke Bukit Tandang, menghidupkan suraunya, sampai sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda itu masih eksis, melanjutkan tradisi dan budaya yang pernah dicetuskan oleh Khaidir Pakiah Kayo.
Tahun 1973, beliau balik ke Bukit Tandang. Surau Sasok, di kampungnya sendiri yang beliau tempati. Ada 25 anak siak yang ikut dari Sijunjung, yakni Tuanku Husin Imam Kaufah asal Taluak Kuantan, Provinsi Riau, Tuanku Yamin Angku Putih Taluak Kuantan, Tuanku Sutan M. Zen Tandikek, Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Azwar Tuanku Marajo, asal Padang Sago, Katik Siri dari Paru, Sijunjung, Tuanku Sidi Jalalen, Tuanku Agustiar Sungai Sariak, Tuanku Zaini Padang Sago.
Selanjutnya, Koten Tuanku Bandaro asal Tandikek, Abdullah Padang Sago, Amir Tuanku Sulaiman Tandikek, Tuanku Darwis, asal Siak, Padang Laweh, Sijunjung, Tuanku Marlegan Sungai Durian, Tuanku Kuniang Muhammad Nur Sungai Sariak, Husin Tuanku Itam Sungai Sariak, Ahmad Damanhuri Tuanku Bandaro, Tuanku Sinaro Jenderal, Baharuni dari Lumindai, Sijunjung, Piliah Tuanku Sidi di Sungai Sariak, Saiful Tuanku Itam dari Abai Siat, Dharmasraya, tuanku Sidi Martinus Limau Puruik, Tuanku Syafi'i Tandikek, Abu Bakir Tuanku Mudo Tandikek, Sutan Kalbudri, Tandikek.
Keistimewaan
Menurut Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, dalam mendidik dan mengasuh anak siak, Khaidir Pakiah Kayo itu terkenal disiplin. "Kalau di jam belajar itu, beliau selalu hadir, meski badannya terasa letih sehabis dari sawah dan ladang. Tak mudah baginya untuk meliburkan anak siak, walau dalam kondisi waktu yang sempit, misalnya," kata Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro.
Kemudian, beliau yakin dengan ilmu dan kaji yang didapatkannya. Beliau juga istiqamah dalam beribadah. Artinya, ibadah yang sudah rutin dilakukan, itu jarang sekali ditinggalkannya. Makanya, dalam keseharian itu beliau selalu dalam keadaan berwudhu.
Khaidir Pakiah Kayo sangat terkenal takzim dan selalu memuliakan gurunya. Baginya, guru adalah wasilah utama dalam mengharap keberkahan kaji dan keilmuan. Sementara, kepada semua anak siaknya, beliau selalu santun dan penyayang.
Keluarga dan Karya
Syekh H. Khaidir Pakiah Kayo wafat di Mekkah, saat perjalanan menunaikan ibadah haji, 12 Mei 1998 M, bertepatan 14 Muharram 1419 H. Artinya, beliau wafat setelah selesai mengerjakan semua rangkaian ibadah haji. Istrinya, Hj. Mawartini, lahir anak, Nurhasanah, Zainab, Zulaikha, Fitri Yeni, Syamwil, Iskhil, Waldi Abdurrahman Tuanku Malin Malelo. Perjalanan panjang beliau dalam menuntut ilmu, berguru kepada ulama hebat dan terkenal di Talawi, Sawahlunto dan Syekh Tawaf Tuanku Sidi di Sungai Sariak, Padang Pariaman, menjadikan Khaidir Pakiah Kayo ulama yang tafakkuh fiddin.
Ratusan anak siak dari berbagai belahan negeri ini, tercatat dari Riau, Jambi dan Sumatera Barat, bahkan sebagian ada santrinya datang dari Pulau Jawa pernah mengaji langsung dengan beliau Khaidir Pakiah Kayo. Di samping beliau alim dan malin, juga terkenal sebagai mursyid Tarekat Syattariyah, pandai silek bela diri.
Pondok Pesantren Nurul Huda, lengkap dengan sarana ibadah, masjid dan surau yang didirikannya, hingga hari ini terus diwarisi dan dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Bahkan, sebuah asrama santri berlantai dua, dibangun oleh masyarakat sepeninggal beliau. Tentunya, demikian itu kian mengokohkan kalau Bukit Tandang itu adalah nagari yang melahirkan peradaban Islam yang luar biasa.
Setelah tahun 1998 hingga sekarang, setiap Selasa malam minggu pertama di bulan Muharram, selalu dilakukan haul beliau Khaidir Pakiah Kayo, di komplek Pondok Pesantren Nurul Huda Bukit Tandang. Haul diperingati oleh anak siak, alumni dan jemaah. Hampir dari seluruh pelosok negeri, pada berdatangan, mengenang kisah dan cerita yang dilahirkan Khaidir Pakiah Kayo dulunya.
Haul, di samping melakukan ibadah shalat berjemaah, dilakukan zikir dan tahlil bersama. Termasuk juga tahlilan untuk para alumni Bukit Tandang yang sudah terdahulu. Ini dimaksudkan, agar hubungan kuat guru dan murid setra jemaah, terus kokoh dari dunia sampai ke akhirat.
Berdasarkan sejarah dan catatan lokal mengenai Nagari Bukit Tandang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, H. Khaidir Pakiah Kayo merupakan salah satu tokoh ulama dan guru agama Islam pertama yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Setelah Nagari Bukit Tandang mulai berkembang, wilayah ini dikenal luas oleh masyarakat luar bukan hanya karena hasil pertaniannya yang melimpah, melainkan juga sebagai pusat pembelajaran agama Islam. H. Khaidir Pakiah Kayo bersama dengan ulama lainnya, seperti H. Abdul Rahman dan H. Engku Pasiea, tercatat sebagai guru-guru pertama yang mengajar agama Islam kepada masyarakat setempat dan para pendatang yang sengaja berkunjung untuk menuntut ilmu.
Nagari ini awalnya bernama Kaik Tandang pada tahun 1800 (diambil dari sifat leluhur yang penyayang, penyantun, dan suka menghormati tamu/pendatang). Nama tersebut kemudian berubah menjadi Nagari Bukit Tandang sekitar tahun 1817, dan dimantapkan kembali dalam rentang tahun 1900 hingga 1928. Pada periode perkembangan inilah kegiatan keagamaan yang dipelopori oleh H. Khaidir Pakiah Kayo dan ulama lainnya menjadikan Bukit Tandang sebagai nagari yang ramai dikunjungi untuk belajar agama. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Kamis 25 Juni 2026, di Puncuang Anam, Tandikek Selatan. Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro tercatat sebagai generasi kedua yang mengaji di Bukit Tandang bersama Khaidir Pakiah Kayo.
2. Wawancara dengan Tuanku Zainal, Waldi Abdurrahman Tuanku Malin Malelo, serta Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Selasa 30 Juni 2026 di Pondok Pesantren Nurul Huda, Bukit Tandang, Kabupaten Solok. Waldi Abdurrahman Tuanku Malin Malelo adalah putra bungsu Khaidir Pakiah Kayo, aktif di Nagari Bukit Tandang, lama mengaji di Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok. Sementara, Tuanku Zainal adalah tokoh yang dituakan dalam organisasi alumni Pondok Pesantren Nurul Huda. Beliau orang Tandikek, lama mengaji dulunya dengan Khaidir Pakiah Kayo.
3. [https://media.neliti.com](https://media.neliti.com/media/publications/64119-ID-modernisasi-pendidikan-islam-awal-abad-2.pdf)
4. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Payakumbuh)
5. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_Padang_Panjang%E2%80%93Payakumbuh%E2%80%93Limbanang)
6. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Payakumbuh
7. Catatan Waldi Abdurrahman Tuanku Malin Malelo, 2000, biografi Khaidir Pakiah Kayo, tulisan tangan yang diriwayatkan oleh ibunya Waldi Abdurrahman Tuanku Malin Malelo.


