![]() |
Oleh: Duski Samad
surautuankuprofessor#series107.21042026
Zaman terus bergerak, dan setiap geraknya selalu membawa konsekuensi. Ia mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, dan memahami kebenaran. Dalam pusaran perubahan itu, ulama dan mubaligh tidak mungkin berdiri di luar arus. Mereka justru berada di tengahnya—menjadi penentu arah, apakah perubahan itu akan membawa cahaya atau justru kebingungan.
Di masa lalu, dakwah tumbuh dari ruang-ruang yang sederhana namun penuh makna. Surau, masjid, dan majelis ilmu menjadi pusat peradaban. Di sanalah ilmu dipelajari dengan adab, ditransmisikan dengan sanad, dan diamalkan dengan kesungguhan. Tidak ada kegaduhan, tidak ada perlombaan popularitas. Yang ada adalah kedalaman, ketulusan, dan kesinambungan.
Namun sejarah Islam tidak pernah berhenti pada ruang-ruang itu saja. Ulama klasik telah melampaui batas mimbar. Mereka menjadikan ilmu sebagai energi peradaban. Ibnu Sina tidak hanya menulis tentang kesehatan, tetapi membangun cara berpikir medis yang melahirkan sistem pengobatan terstruktur. Dari tangannya, ilmu menjadi praktik, praktik menjadi sistem, dan sistem menjadi fondasi industri kesehatan yang bertahan berabad-abad.
Demikian pula Al-Khwarizmi. Ia tidak sekadar menghitung angka, tetapi merumuskan pola pikir matematis yang kelak menjadi dasar teknologi modern. Apa yang ia bangun dalam lembaran-lembaran ilmu, hari ini menjelma menjadi algoritma yang menggerakkan dunia digital—dari telepon genggam di tangan kita hingga sistem global yang mengatur kehidupan manusia.
Sementara Al-Biruni menatap langit dengan ketekunan yang jarang tertandingi. Ia mengukur bumi, membaca pergerakan bintang, dan membangun kesadaran bahwa manusia hidup dalam keteraturan kosmik. Dari pengamatan itu lahir ilmu falak, navigasi, dan pengetahuan tentang waktu—yang semuanya menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia.
Apa yang mereka lakukan memberi satu pelajaran mendasar:
bahwa ulama sejati tidak berhenti pada ilmu sebagai pengetahuan, tetapi melanjutkannya menjadi amal, sistem, dan peradaban.
Hari ini, kita berada pada fase baru dari perjalanan itu. Mimbar telah meluas menjadi layar. Dakwah tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam satu sentuhan, pesan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan manusia. Ini adalah peluang yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah dakwah.
Namun, di balik peluang itu, tersembunyi ujian yang tidak ringan. Dunia digital tidak bekerja berdasarkan kedalaman, tetapi berdasarkan perhatian. Ia tidak selalu mengangkat yang benar, tetapi yang menarik. Di sinilah dakwah diuji: apakah ia akan tetap setia pada kebenaran, atau tergoda mengikuti arus popularitas.
Perubahan dari kitab ke konten mempercepat penyebaran ilmu, tetapi juga mengandung risiko penyederhanaan. Ilmu yang seharusnya dipahami secara utuh bisa terpotong menjadi potongan-potongan pendek yang kehilangan konteks. Padahal Allah telah mengingatkan pentingnya pendalaman, bukan sekadar penyampaian.
Lebih jauh lagi, dakwah kini bersentuhan dengan dunia industri. Ada monetisasi, branding, dan pasar. Ini adalah realitas baru yang tidak bisa dihindari. Tetapi sejarah ulama klasik mengajarkan bahwa dunia tidak boleh menjadi tujuan, melainkan sarana. Ketika ilmu tunduk pada pasar, maka arah dakwah bisa bergeser tanpa disadari.
Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa ilmu yang kehilangan orientasi kepada Allah akan kehilangan keberkahannya. Ia mungkin terlihat besar di dunia, tetapi kosong di sisi-Nya.
Di titik inilah kita perlu kembali belajar dari jejak para ulama terdahulu. Mereka tidak menolak dunia, tetapi mereka menguasainya dengan nilai. Mereka tidak menolak perubahan, tetapi mereka mengarahkannya. Mereka tidak sekadar mengikuti zaman, tetapi membentuk zaman.
Maka ulama dan mubaligh era digital tidak cukup hanya menjadi penyampai pesan. Mereka harus menjadi penafsir zaman. Mereka harus mampu menjadikan teknologi sebagai alat dakwah yang berakar pada kedalaman ilmu, dituntun oleh keikhlasan, dan diarahkan oleh hikmah.
Jika dahulu ulama membangun rumah sakit, observatorium, dan pusat-pusat ilmu, maka hari ini mereka harus mampu membangun ekosistem digital yang sehat—ruang yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran.
Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan yang sederhana tetapi mendalam:
perubahan medium tidak boleh mengubah misi.
Dari mimbar ke layar adalah perluasan.
Dari kitab ke konten adalah penyesuaian.
Dari ilmu ke industri adalah konsekuensi zaman.
Tetapi ruh dakwah tetap sama: mengajak manusia menuju kebenaran, menuntun hati menuju ketenangan, dan membangun peradaban yang berakar pada iman dan akhlak.
Di tengah derasnya arus digital, umat tidak hanya membutuhkan suara yang lantang, tetapi arah yang jelas.
Dan di situlah ulama kembali menemukan perannya:
bukan sekadar hadir di layar, tetapi menjadi cahaya yang menuntun di tengah gelapnya kebisingan zaman.ds.
