![]() |
oleh : Dr. H.Mochamad Taufik, M.Pd.
Mendidik anak bukan sekadar urusan dunia, tetapi investasi akhirat. Anak sholeh–sholihah bukan hanya menjadi penyejuk hati, tetapi juga sumber keberkahan hidup. Allah ﷻ menegaskan bahwa kehidupan yang baik (ḥayāh ṭayyibah) akan diberikan kepada orang-orang beriman dan beramal shalih.
Allah berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
(QS. An-Nahl: 97)
Menurut Ibnu Katsir, “ḥayāh ṭayyibah” adalah kehidupan yang penuh ketenangan, kecukupan rezeki, dan kebahagiaan batin—meskipun secara materi sederhana. Ini menunjukkan bahwa mendidik anak menjadi sholeh adalah jalan menuju kesejahteraan sejati, bukan sekadar materi.
Peran Ayah dan Ibu: Dua Pilar Utama
Seringkali pendidikan anak hanya dibebankan pada ibu. Padahal Al-Qur’an memberi isyarat kuat bahwa ayah memiliki peran sentral dalam pendidikan akidah dan karakter.
Perhatikan nasihat Luqman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
(QS. Luqman: 13)
Menurut Al-Qurtubi, ayat ini menunjukkan bahwa ayah adalah pendidik pertama dalam tauhid, menanamkan fondasi iman sejak dini. Maka, ayah tidak boleh pasif atau hanya “pencari nafkah”, tetapi harus hadir sebagai pendidik ruhani.
Ibu pun memiliki peran luar biasa—terutama dalam kasih sayang, doa, dan kedekatan emosional. Kombinasi ayah yang tegas dan ibu yang lembut akan melahirkan keseimbangan karakter anak.
5 Pilar Mendidik Anak Sholeh–Sholihah
1. Menegakkan Sholat, Utamakan Jamaah
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
(QS. Thaha: 132)
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan bahwa orang tua tidak cukup hanya sholat sendiri, tetapi harus memerintahkan dan membiasakan keluarga untuk sholat. Sholat berjamaah membangun kedisiplinan dan kebersamaan spiritual.
2. Membiasakan Membaca Al-Qur’an
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
(QS. Al-Isra: 9)
Menurut Fakhruddin Ar-Razi, Al-Qur’an adalah petunjuk paling lurus dalam membentuk akal, hati, dan perilaku manusia. Anak yang dekat dengan Al-Qur’an akan memiliki kompas hidup yang benar.
3. Kekuatan Doa Orang Tua
Doa ibu adalah senjata langit yang tidak pernah gagal.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
(QS. Ibrahim: 40)
Ini adalah doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya. Menurut Ibnu Katsir, doa ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun tidak mengandalkan usaha saja, tetapi bergantung pada doa kepada Allah.
Doa sederhana namun dahsyat:
“Ya Allah, aku titipkan anak-anakku kepada-Mu. Jadikan mereka anak yang beriman, bertaqwa, dan sholeh–sholihah.”
4. Menjaga Lingkungan
Lingkungan adalah “guru kedua” setelah orang tua.
Rasulullah ﷺ bersabda (maknanya):
Seseorang itu tergantung agama temannya.
Menurut para ulama tafsir, lingkungan yang baik akan memperkuat iman, sedangkan lingkungan buruk bisa merusak karakter meskipun anak berasal dari keluarga baik.
5. Pendidikan yang Baik (Sekolah & Pesantren)
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Menurut Al-Qurtubi, ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang dilandasi iman akan mengangkat derajat manusia di dunia dan akhirat. Maka memilih sekolah, pondok, atau TPQ bukan sekadar soal prestasi akademik, tetapi juga pembentukan iman dan akhlak.
Penutup: Pendidikan adalah Keteladanan
Anak tidak hanya mendengar, tetapi meniru. Jika orang tua rajin sholat, anak akan mengikuti. Jika orang tua mencintai Al-Qur’an, anak akan meniru.
Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
(QS. At-Tahrim: 6)
Menurut Ibnu Katsir, makna ayat ini adalah: didiklah keluarga dengan ilmu dan adab agar selamat dari neraka.
Pesan Inti
Mendidik anak sholeh bukan proyek instan, tapi perjalanan panjang:
Dimulai dari keteladanan orang tua
Dikuatkan dengan ibadah dan doa
Dijaga dengan lingkungan dan pendidikan
Jika semua ini dijalankan, insyaAllah bukan hanya anak yang sholeh, tapi keluarga akan menjadi rumah yang diberkahi dan penuh ketenangan.
