![]() |
Oleh: Duski Samad
STP#series88.130426
Subuh Darul Muttaqin Siteba, Selasa, 14042026
Ada satu ketakutan yang justru dimuliakan dalam Islam: bukan takut miskin, bukan takut kehilangan jabatan, tetapi takut terhadap akhir kehidupan—khauf su’ul khatimah. Ketakutan ini bukan pesimisme, melainkan kesadaran terdalam bahwa hidup manusia tidak diukur dari awalnya, tetapi dari akhirnya.
Allah mengingatkan dalam firman-Nya:
> “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalnya?” (QS. Al-Kahfi: 103)
Ayat ini mengguncang kesadaran kita. Ia berbicara tentang manusia yang tidak merasa gagal, bahkan mungkin merasa benar dan berhasil. Namun di hadapan Allah, ia justru termasuk golongan yang paling merugi. Di sinilah letak ironi kehidupan: ada orang yang rajin beramal, tetapi kehilangan makna; ada yang tampak benar, tetapi tersesat dalam batinnya. Inilah salah satu wajah su’ul khatimah yang paling halus—akhir yang buruk, bukan karena ketiadaan amal, tetapi karena rusaknya orientasi amal.
Dalam telaah mendalamnya, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa su’ul khatimah bukan sekadar mati dalam keadaan berdosa. Lebih dari itu, ia adalah penutup kehidupan yang buruk akibat kondisi batin yang tidak pernah diperbaiki. Yang menentukan bukan hanya apa yang tampak di luar, tetapi apa yang menguasai hati di dalam.
Al-Ghazali menegaskan sebuah prinsip yang sangat tajam: “Seseorang akan mati sesuai dengan apa yang mendominasi hatinya dalam hidup.” Jika yang mendominasi adalah dunia, maka ia akan wafat dalam kegelisahan dunia. Jika yang memenuhi jiwa adalah syahwat dan kelalaian, maka itulah yang muncul di detik-detik terakhir kehidupannya. Sebaliknya, jika hati dipenuhi dengan dzikir dan cinta kepada Allah, maka itulah yang akan menuntunnya menuju husnul khatimah.
Dengan demikian, su’ul khatimah tidak datang secara tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari kebiasaan, pilihan, dan kecenderungan hidup yang berlangsung lama. Ia tumbuh diam-diam dalam hati yang tidak dijaga.
Al-Ghazali bahkan membedakan su’ul khatimah dalam dua bentuk. Pertama, yang ringan: seseorang wafat dalam keadaan masih beriman, tetapi hatinya belum sepenuhnya bersih dari kecintaan kepada dunia. Ia selamat, tetapi melalui proses hisab dan kemungkinan azab. Kedua, yang berat—dan inilah yang paling ditakuti: ketika hati telah rusak oleh keraguan, kesombongan, atau kebencian terhadap kebenaran, lalu pada saat sakaratul maut muncul prasangka buruk kepada Allah. Pada titik ini, iman bisa tergelincir. Inilah tragedi spiritual yang sesungguhnya.
Mengapa ini bisa terjadi? Al-Ghazali menunjukkan akar masalahnya: cinta dunia yang berlebihan. Dunia bukan sekadar dimiliki, tetapi merasuki hati. Ketika dunia menjadi tujuan utama, maka berpisah darinya terasa seperti kehilangan segalanya. Di saat yang sama, banyak manusia menunda taubat, seolah ajal bisa dinegosiasikan. Dosa yang diulang tanpa penyesalan perlahan mengeras menjadi karakter. Ditambah lagi penyakit batin seperti riya’, ujub, dan merasa paling benar—semuanya merusak fondasi keikhlasan.
Yang lebih berbahaya adalah kelalaian dari dzikir. Hati yang tidak terbiasa mengingat Allah akan asing kepada-Nya di akhir hayat. Lidah mungkin mampu menyebut nama-Nya, tetapi hati tidak lagi merasakan kehadiran-Nya.
Di sinilah relevansi mendalam QS. Al-Kahfi ayat 103. Ia mengingatkan bahwa kerugian terbesar bukanlah kegagalan dunia, tetapi kegagalan memahami hakikat hidup. Amal tanpa keikhlasan, aktivitas tanpa arah tauhid, dan kesalehan yang dibangun di atas kesombongan—semuanya berpotensi mengantarkan pada akhir yang merugi.
Namun Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Rasa takut terhadap su’ul khatimah harus berjalan seiring dengan harapan kepada rahmat Allah. Al-Ghazali menegaskan pentingnya keseimbangan antara khauf (takut) dan raja’ (harap). Takut agar tidak lalai, dan berharap agar tidak putus asa.
Jalan keselamatan pun jelas. Pertama, menjaga hati—karena di sanalah letak penentu akhir. Kedua, membiasakan dzikir agar hati selalu terhubung dengan Allah. Ketiga, mempercepat taubat sebelum waktu menutup pintunya. Keempat, mengurangi keterikatan pada dunia tanpa harus meninggalkannya. Dan kelima, membangun kesadaran bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju akhir, bukan sekadar persinggahan sementara.
Pada akhirnya, ketakutan terhadap su’ul khatimah bukanlah ketakutan yang melemahkan, tetapi yang menyadarkan. Ia mengajak manusia untuk jujur pada dirinya sendiri: apa yang sebenarnya ia cintai, apa yang ia kejar, dan ke mana arah hidupnya.
Karena pada saat yang paling sunyi—ketika semua yang dicintai di dunia harus ditinggalkan—yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Dalam keadaan apa kita akan kembali kepada Allah?
