![]() |
oleh Kel. Ointoe-Sigar
Yaa ayyatuha an-nafsul mutmainnah. Irji'ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Fadkhulii fii 'ibaadii. Wadkhulii jannatii.
Artinya: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." — QS. Al-Fajr, ayat 27–30.
Testimoni Idul Fitri 1447 H adalah sebuah perenungan tentang waktu yang meluncur seperti asap, mengembang lalu hilang tanpa jejak.
Ramadan yang sebulan penuh kita jalani dengan kesunyian malam dan doa yang terangkat ke langit seakan ditelan fajar Syawal dalam sekejap.
Namun dalam sekejap itu kita dibangunkan kembali pada fitrah — fitrata llahi allati fatara
n-nasa 'alayha((tetaplah atas fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah) — pada kesadaran bahwa perjalanan spiritual bukan sekadar ritual, melainkan pengukuhan jati diri di hadapan Sang Pencipta.
Idul Fitri adalah panggilan bagi jiwa yang tenang untuk kembali kepada Rabbnya dengan rasa takjub, tunduk, sujud, dan syukur.
Ia bukan hanya perayaan kemenangan atas lapar dan dahaga, melainkan kesaksian bahwa manusia mampu menundukkan ego, menata hati, dan meneguhkan silaturahmi.
Dari keluarga Ointoe-Sigar — Reiner, Terry, Aldin, Almitra — testimoni ini menjadi ikrar untuk memperluas lingkaran ukhuwah, bukan hanya dalam lingkar keluarga, tetapi juga dalam umat dan bangsa.
Hujjatul Islam, Al-Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada harta atau kedudukan, melainkan pada kesucian hati yang kembali kepada Allah.
Idul Fitri adalah momentum untuk menyalakan kembali kimia kebahagiaan itu, menyebarkannya kepada handai tolan, sahabat, dan sesama manusia.
Dengan demikian, hari raya ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan laboratorium spiritual di mana kita belajar tentang arti kembali, arti memaafkan, dan arti menyatukan diri dalam ikatan kasih sayang.
Menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. atau 21 Maret 2026 M., kita diajak merenungkan bahwa waktu memang seperti asap, tetapi jejak amal dan silaturahmi tidak pernah lenyap.
Ia tetap hidup dalam memori, dalam doa, dan dalam ikatan yang kita bangun.
Idul Fitri adalah kesaksian bahwa meski dunia terus bergerak, ada satu titik kembali yang selalu menunggu: fitrah manusia yang suci, yang hanya menemukan makna sejati ketika ia kembali kepada Rabbnya dengan jiwa yang tenang.
Sebagai rujukan mutakhir, EidTale (2025) karya Jonas Eriksen hadir sebagai karya interaktif untuk anak-anak yang menghadirkan pengalaman menyenangkan sekaligus mendidik tentang Idul Fitri.
Melalui kombinasi cerita, permainan, dan ilustrasi, anak-anak diajak memahami makna perayaan setelah Ramadan dengan cara yang ringan dan penuh warna.
Karya ini menekankan suasana hangat kebersamaan keluarga, pentingnya berbagi kebahagiaan dengan sesama, serta nilai spiritual yang muncul dari perjalanan puasa.
Dengan pendekatan interaktif, anak-anak tidak hanya membaca atau menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam aktivitas yang memperkuat pemahaman mereka tentang tradisi dan makna Idul Fitri sebagai momen penuh syukur dan kebersamaan.
Manado, 21 Maret 2026.
Selamat Idul Fitri 1447 H.
Minal Aidin Wal Faidzin
Taqaballah minna wa minkum
Taqaballah ya karim❤️🤲🏼
*Reiner, Terry Heesye, M. Aldin, Almitra Putri.
#coverlagu:
Ustadz Jefri Al Buchori (Uje) merilis sejumlah album religi populer pada era 2000-an, di antaranya Lahir Kembali (2004), Shalawat Cinta (2005), dan Dakwah Perjalanan Hidup (2007).
Lagu-lagunya seperti “Bidadari Surga,” “Shalawat Cinta,” dan “Subhanallah” dan “Selamat Hari Lebaran” masih sering diputar saat Ramadan dan Idul Fitri.
Ustadz Jefri Al Buchori, akrab disapa Uje, lahir pada 12 April 1973 di Jakarta dan wafat pada 26 April 2013 akibat kecelakaan motor di Jakarta pada usia 40 tahun.
#credit foto diedit dari album keluarga pada Idul Fitri 2025.
