![]() |
SURAU DIGITAL TUANKU PROFESSOR
Series #21.04032026
Oleh: Duski Samad
Pengasuh Surau Digital Tuanku Professor
Ilmu dalam Islam bukan sekadar alat untuk mencari nafkah atau meningkatkan status sosial. Ilmu adalah jalan ibadah, sumber kemuliaan, dan fondasi peradaban manusia. Karena itu Al-Qur’an menempatkan ilmu sebagai salah satu karunia terbesar yang Allah berikan kepada manusia.
Ketika Allah menciptakan Nabi Adam, Allah mengajarkan kepadanya berbagai pengetahuan. Dalam firman-Nya disebutkan:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 31–32)
Ayat ini sering dijadikan oleh para ulama sebagai dasar bahwa ilmu bersifat universal. Allah tidak membatasi pengetahuan hanya pada satu bidang tertentu. Semua ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia merupakan bagian dari amanah yang harus dikembangkan. Karena itu dalam tradisi Islam klasik tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu kedokteran, matematika, astronomi, pertanian, dan teknologi dipandang sebagai bagian dari tugas manusia sebagai khalifah di bumi.
Islam juga menempatkan orang berilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadillah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak hanya diukur dari kekayaan atau kekuasaan, tetapi dari iman dan ilmu yang dimilikinya. Karena itu sepanjang sejarah Islam, para ulama dan ilmuwan memiliki posisi yang sangat dihormati dalam masyarakat.
Namun Al-Qur’an juga memberikan peringatan bahwa ilmu harus menjadi dasar dalam berbicara dan bertindak. Allah menegaskan:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Ayat ini mengajarkan etika intelektual yang sangat penting: jangan berbicara tanpa ilmu. Dalam kehidupan modern yang dipenuhi informasi, prinsip ini menjadi semakin relevan. Banyak konflik sosial, kesalahpahaman agama, bahkan kerusakan moral terjadi karena manusia berbicara dan bertindak tanpa dasar pengetahuan yang benar.
Islam juga menegaskan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan kesadaran spiritual. Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu sejati bukanlah ilmu yang melahirkan kesombongan, tetapi ilmu yang menumbuhkan kerendahan hati dan rasa tanggung jawab kepada Allah.
Karena itu, dalam Islam ilmu menjadi langkah pertama dalam dakwah dan pembinaan umat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Mengapa tidak ada sekelompok orang dari tiap-tiap golongan yang memperdalam ilmu agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya.” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus dimulai dengan ilmu. Tanpa ilmu, dakwah bisa berubah menjadi sekadar emosi atau bahkan menimbulkan perpecahan.
Sejarah juga menunjukkan bahwa generasi ilmuwan Muslim lahir dari motivasi ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadikan menuntut ilmu sebagai ibadah. Para ilmuwan besar dalam sejarah Islam seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Battani tidak hanya mengejar pengetahuan untuk kepentingan dunia, tetapi melihat ilmu sebagai jalan untuk memahami kebesaran Allah.
Dalam kehidupan manusia, ilmu juga menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan yang seimbang. Para ulama sering merumuskan prinsip kehidupan yang sederhana namun mendalam:
Dengan agama hidup terarah.
Dengan ilmu hidup menjadi mudah.
Dengan seni hidup menjadi indah.
Agama memberi arah moral, ilmu memberi kemampuan untuk memecahkan masalah kehidupan, sementara seni memberi kehalusan jiwa dan keindahan peradaban.
Perjalanan manusia menuju keberhasilan juga memiliki beberapa tahap. Pada tahap awal manusia berusaha bertahan hidup (survival). Setelah itu manusia mencari keamanan dan kestabilan hidup (secure). Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, manusia mengejar kesuksesan (success). Namun puncak tertinggi kehidupan bukan sekadar sukses, melainkan memberi makna dan manfaat bagi orang lain (significance).
Hal yang sama juga berlaku dalam perjalanan intelektual seseorang. Pada awalnya seseorang mencari identitas diri. Setelah itu ia berusaha meraih prestasi (achievement). Ketika prestasi itu diakui, lahirlah reputasi. Namun tahap tertinggi adalah ketika keilmuan seseorang diterima dan memberi manfaat luas bagi masyarakat, yaitu acceptance.
Dalam tradisi Islam dikenal berbagai istilah yang menggambarkan kualitas intelektual manusia. Ulama adalah mereka yang mendalami ilmu agama. Ilmuwan adalah mereka yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Ulul Albab adalah orang-orang yang memadukan akal dengan spiritualitas. Pakar adalah ahli dalam bidang tertentu. Sementara ulun nuha adalah manusia yang memiliki akal yang jernih dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Semua konsep ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya menuntut manusia untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan bijaksana dalam bertindak.
Pada akhirnya, ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan yang tersimpan di dalam pikiran. Ilmu adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia memahami dirinya, memahami alam, dan memahami Tuhannya.
Karena itu para ulama selalu mengingatkan bahwa menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi jalan menuju kemuliaan hidup dan keberkahan peradaban. Manusia yang berilmu tidak hanya mampu mengubah kehidupannya sendiri, tetapi juga mampu menerangi kehidupan orang lain.
Dan di situlah makna sejati ilmu:
bukan hanya mengetahui, tetapi membawa manusia menuju kebenaran, kemanfaatan, dan kedekatan kepada Allah. Ds
