![]() |
MU-ONLINE -- Tuanku Sidi Tawaf, juga dikenal sebagai Syekh Tawaf adalah seorang ulama dari Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang aktif mengembangkan pendidikan Islam pada pertengahan abad ke-20. Beliau merupakan pembimbing, pengasuh dan Syaikhul Ma'ad di Pesantren Madinatul Ilmu Islamiyah Buluah Kasok, Padang Pariaman. Sekitar tahun 1960-an, pesantren di bawah bimbingannya menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar dan berpengaruh di wilayah tersebut, setara dengan kemajuan pesantren-pesantren besar lainnya pada masa itu.
Gelar "Tuanku" dan "Sidi": Gelar Tuanku di Padang Pariaman secara historis diadopsi dari tradisi keilmuan yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin Ulakan. Sementara itu, gelar Sidi merupakan gelar bangsawan atau kehormatan lokal yang khas di Pariaman.
Kebesaran Syekh Tawaf di zamannya, tak terlepas dari perjalanan panjang beliau mengaji, menuntut ilmu dulunya. Bertemu dan bersua, sampai mengaji dengan banyak ulama hebat pula dulunya. Lahir 1914, Syekh Tawaf ini lama mengaji di Ampalu Tinggi bersama Syekh Muhammad Yatim. Pernah mengaji di Sijunjung, dengan Syekh Talawi.
Menurut Wikipedia, Syekh Talawi kemungkinan besar merujuk pada Syekh Tumpo (atau Syekh Tompuah Sakati), seorang ulama penyebar Islam terkemuka pada abad 18-19 di Desa Talawi Mudiak, Sawahlunto, Sumatra Barat. Makam beliau merupakan cagar budaya dan situs wisata religi yang dikonservasi oleh pemerintah desa setempat.
Syekh Talawi (Syekh Tumpo), makamnya terletak di Jalan Kampung, Desa Talawi Mudiak, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Tokoh ulama yang menyebarkan agama Islam di kawasan Talawi pada abad ke-18 hingga ke-19. Merupakan salah satu cagar budaya tidak bergerak di Sawahlunto yang terus dipugar dan dikembangkan sebagai lokasi wisata religi oleh Pemerintah Desa Talawi
Penting untuk dicatat, bahwa Syekh Tumpo di Talawi berbeda dengan Imam Ahmad Al-Badawi (sufi Maroko-Mesir), karena seringkali terjadi kemiripan nama dalam pelafalan, namun lokasinya merujuk pada wilayah administratif Talawi di Sumatera Barat.
Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, salah seorang alumni tertua Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok menyebutkan, dari Talawi, beliau pindah mengaji ke Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Lalu dari Luhak Nan Tuo itu, beliau pindah mengaji ke Batagak, Kabupaten Agam, dengan Syekh H. Ibrahim. Tak lama di Batagak itu, belum turun dan pulang kampung, mengaji lagi dengan Syekh Muhammad Yatim.
Sementara, silsilah Tarekat Syattariyah yang ditetapkan oleh Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah, dari sekarang, Syekh Jalalen Tuanku Sidi, Syekh Tawaf Tuanku Sidi, Syekh Muhammad Yatim, Syekh Talawi, Syekh Cupak, Syekh Sumani, Syekh Khasik Sumani, Syekh Khili Salayo Solok, Syekh Sawah Liek Kinari Solok, Syekh Angku Kandang Biju Talang, Syekh Ibrahim Padang Gantiang, Syekh Burhanuddin, Syekh Abdurrauf Aceh, Syekh Ahmadul Qusyasi. Silsilah itu berlanjut terus ke atasnya yang memuat 38 nama. Allah SWT di atas sekali, nomor wahid.
Menurut sejarah yang dicatat langsung oleh Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok, pesantren ini pertama kali hadir dan berdiri tahun 1846, yang didirikan oleh Ungku Masio. Dalam buku "Mereka yang Terlupakan, Tuanku Menggugat", karya Armaidi Tanjung terbit 2007 disebutkan, Tuanku Mansio adalah ulama ahli dikie. Beliau yang mewakafkan tanah untuk bangunan dan pengembangan pendidikan surau.
Dari 1846-1897, Tuanku Mansio yang terkenal keramat ini yang memulai, mendidik anak siak. Sepeninggal beliau, yakni dari 1897-1900, pesantren ini dipimpin oleh Tuanku Abdul Halim. Pasca itu diteruskan oleh Tuanku Kuniang Padusunan (1900-1903), Tuanku Kuantan (1903-1907), Syekh Muhammad Yatim (1907-1910), Tuanku Kari Mudiak Padang (1910-1913), Tuanku Piaman (1913-1921), Tuanku Kampung Jambak (1921-1926), Tuanku Panjang (1926-1944). Terhenti sebentar, lalu dilanjutkan oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi (1945-1989), dan sejak 1989 hingga sekarang, Madinatul Ilmi Islamiyah dipimpin Syekh Jalalen Tuanku Sidi, anak dari Syekh Tawaf Tuanku Sidi.
Jelimet Dalam Surah Kaji Fiqh
Beliau, Syekh Tawaf Tuanku Sidi itu terkenal paling jelimet soal surah kaji fiqh. Paling takut dan tidak mau melampaui apa yang ada dalam kitab fiqh. Baik dalam mengaji, membimbing anak siak maupun dalam amal ibadah. "Saya pernah lama berdiskusi dan bersurah kaji, soal bacaan basmalah ketika membaca ayat dalam shalat. Sampai beliau memperlihatkan seluruh fiqh yang dia punyai, terutama fiqh Syafi'i. Begitu benar beliau mempertahankan, betapa penting seorang imam shalat membaca basmalah sebelum membaca ayat. Kalau di alfatihah, itu memang sudah wajib dibaca, disepakati oleh seluruh imam mazhab," ulas Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro.
Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro ini termasuk salah satu alumni Madinatul Ilmi Islamiyah yang mendirikan dan memimpin serta mengasuh pesantren. Dalam catatan sejarah pesantren ini, santri atau anak siak Syekh Tawaf Tuanku Sidi yang mendirikan pesantren, di samping Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, ada Syekh H Salif Tuanku Sutan yang mendirikan Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Batang Kabung, Padang. Ada nama Syekh Khaidir Pakiah Kayo yang mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda Bukik Tandang, Kabupaten Solok, dan ulama lainnya yang mendirikan pesantren di Sijunjung, Padang Pariaman, bahkan di Taluak Kuantan, Provinsi Riau.
Bagi Syekh Tawaf Tuanku Sidi ini, dalam mendidik anak-anak siak dulunya, diluruskan betul niat anak siak untuk mengaji. Sebab, setiap pekerjaan, termasuk mengaji dan menuntut ilmu, perlu niat yang baik dan tulus.
"Ada dua ibarat yang diistilahkan oleh beliau kepada anak siak. Yakni mengaji seperti ilmu pisang atau kelapa. Pisang merupakan tanaman yang singkat. Cepat saja. Setelah ditanam, pisang tak lama biasanya langsung berbuah, dan buahnya sudah bisa dinikmati ketika masak. Pas pisang masak, batangnya harus ditebang. Pisang hanya sekali berbuah," cerita Syekh Jalalen Tuanku Sidi.
Sementara, tanaman kelapa adalah tanaman tua, lama setelah ditanam, baru berbuah, dan berbuahnya pun lama. Kalau tidak ditebang, biasanya kelapa itu akan terus menghadirkan buah. Kalau ingin seperti pisang, ya tak butuh lama mengaji. Cukup tiga sampai lima tahun, habis itu sudah bisa dinikmati.
Nikmati dengan menghadiri undangan masyarakat untuk berkhutbah dan ceramah di atas mimbar, di hadapkan banyak orang. Bahkan, sebentar saja kita sudah mendunia. Tiap sebentar orang memberikan undangan, meminta kita ceramah. Tenar dan viral istilah orang sekarang, saat ini akan sangat cepat dan gampang. Tapi apakah kondisi itu matang, punya kedalaman ilmu dan banyak amal ibadah? Wallahu'alam.
Sementara, ilmu kelapa ini punya maknet tersendiri. Kealimannya bertambah terus, karena tiap saat berkutat dengan kitab. Tiap waktu dikelilingi murid dan anak siak, dan pada akhirnya itulah ulama yang banyak didatangi. Ulama yang kokoh dan kuat dengan keilmuan. Kedalaman ilmu disertai banyak amal, taat beribadah. Banyak ilmu dan taat ibadah tidak pernah dia sampaikan kepada banyak orang, tetapi masyarakat sendiri yang menjadikan dia sebagai contoh yang baik.
Keluarga
Syekh Tawaf Tuanku Sidi lahir 1914, wafat 13 Safar 1409 H bersamaan dengan 9 September 1989 M. Artinya, 40 tahun lebih, waktunya dihabiskan dengan tafaqquh fiddin, membina dan mengasuh pesantren. Istrinya Budua, melahirkan tujuh orang anak, yakni Khamsiyah, Tasbir Tuanku Sidi, M. Tasir, Mudin, Jalalen Tuanku Sidi, dan anak perempuan dua orang lagi.
Referensi
1. Armaidi Tanjung, Mereka yang Terlupakan Tuanku Menggugat, 2007
2. Wawancara dengan Syekh Jalalen Tuanku Sidi, Sabtu 16 November 2024
3. Wawancara dengan Syekh Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Selasa 10 Februari 2026
