![]() |
MU-ONLINE, PADANG PARIAMAN, -- Namanya Karimun. Pendek saja nama yang diberikan oleh orangtuanya ketika lahir. Tapi kebesaran Karimun yang bergelar Tuanku Sutan ini melampaui nama pendeknya, sekaligus melampaui nama besar Ulakan, kampungnya sendiri.
Tak banyak yang menyebut Karimun Tuanku Sutan. Beliau lebih populer dengan "Ungku Karimun". Bahkan, sebagian besar masyarakat menggelari beliau sebagai "Ungku Malaikat Maut". Menyebut ulama besar di Sungai Gimba Panjang ini, tak terlepas dari peran beliau di Surau Gadang Sikabu Ulakan, tempat beliau bermukim.
Di Surau Gadang Sikabu inilah Karimun Tuanku Sutan mengabdi, membimbing jemaah dan masyarakat ke jalan yang benar. Memasyarakatkan kajian tasawuf lewat Tarekat Syattariyah. Beliau terkenal juga sebagai Khalifah Syekh Burhanuddin dari jalur Syattariyah ini. Silsilahnya bergaris lurus ke Syekh Tibarau, seorang ulama terkenal keramat di Ulakan dulunya. Lebih tepatnya, Karimun Tuanku Sutan ini Khalifah Tarekat. Begitu cerita dan kisah yang dipahami oleh alim ulama yang aktif menggerakkan Masjid Raya Syekh Madinah Sungai Gimba, yang bersebelahan dengan Surau Gadang Sikabu ini.
Silsilahnya masih sangat dekat. Dimulai dari Syekh Burhanuddin, Karimun Tuanku Sutan ini jatuhnya Khalifah keenam di bawah atau setelah Syekh Burhanuddin. Khalifah ketujuh saat ini, karena sudah dilanjutkan oleh Ali Bakri Tuanku Khalifah. Karimun Tuanku Sutan mengambil dari Hasan Tuanku Sutan. Hasan Tuanku Sutan ini mengambil dari Tuanku Patah. Tuanku Patah mengambil dari Syekh Tibarau. Syekh Tibarau mengambil dari Syekh Idris Khatib Majolelo. Syekh Idris Khatib Majolelo mengambil langsung dari Syekh Burhanuddin.
Karimun Tuanku Sutan yang lahir 1911 M ini, adalah anak dari Hasan Tuanku Sutan. Jadi, dari usia dini, Karimun Tuanku Sutan sudah dididik oleh ayahnya sendiri. Pengajian tuo menjadi santapannya sehari-hari, sehingga kelak menjadi ulama yang didatangi banyak orang. Oleh Hasan Tuanku Sutan ini, tak mau pula terus-menerus anaknya belajar dengan dia. Beranjak remaja, Karimun disuruh mengaji ke Surau Ujuang Kubu dengan Ungku Panjang. Seorang ulama terkenal alim dan lihai bela diri.
Cukup lama beliau bersauh sama Ungku Panjang ini. "Zaman itu, di tengah Indonesia masih kusuik masai dalam Pemerintahan Hindia Belanda, Surau Ujuang Kubu ini jadi rujukan oleh banyak orang tua untuk menyuruh anaknya mengaji. Di tambah, salah satu istri Ungku Panjang ini orang Sikabu ini, sehingga banyak anak Sikabu yang mengaji di Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf Sungai Durian itu.
Karimun Tuanku Sutan ini sezaman dengan Tuanku Musa Tapakis, Tuanku Luthan di Surau Gadang Tanjung Medan. Kelak, ketiga ulama ini pun sama-sama menjadi ulama besar di tempatnya masing-masing. Karimun Tuanku Sutan terkenal hebat dengan banyak jemaah di Surau Gadang Sikabu. Dari mana-mana jemaah mendatanginya di Surau Gadang ini.
Tak hanya jemaah yang terdiri dari masyarakat biasa, para alim ulama dan anak siak pun menjadikan beliau sebagai guru, tempat berulang kaji, memecahkan banyak persoalan dalam muzakarah kaji yang digelar di Surau Gadang di waktu dan jadwal yang ditetapkan. Berhalaqah, buka kitab fiqh dan tasawuf, menjadi kajian rutin yang dipimpin Karimun Tuanku Sutan ini.
Nyaris Karimun Tuanku Sutan ini tak keluar dari Surau Gadang. Begitu benar habis waktunya dalam melayani jemaah dan masyarakat yang tiap sebentar mendatanginya. "Keluarnya hanya di hari Jumat. Tepat pukul 10.00 WIB, beliau sudah berjalan ke Masjid Syekh Burhanuddin di Kampung Koto. Hanya satu-satunya masjid di zaman itu di Ulakan," cerita Tuanku Khatib Ibrahim dan Syafri Tuanku Kaciak.
"Sehingga, orang kampung menjadikan bunyi tangkeleknya sebagai jam penanda. Beliau berjalan dari Sikabu ke Kampung Koto, bunyi tangkeleknya saling sahut-sahutan. Tersebut oleh masyarakat, kalau Karimun Tuanku Sutan orang yang nomor satu tiba di masjid saat Shalat Jumat itu," ulas mereka.
Asal terdengar bunyi tangkelek di jalan sepanjang dari Sikabu ke Kampung Koto, itu pasti Karimun Tuanku Sutan sedang pergi ke masjid, pasti hari Jumat. Kalau tidak hari Jumat, beliau tidak ditemui orang di luar. Sebab, jemaah yang datang itu tidak pakai jam khusus. Bahkan dari pagi hingga malam, tak putus-putusnya tamu dan jemaah yang datang.
Yang minta obat, yang minta ditahlilkan, pun yang minta hari kapan masyarakat itu mau turun ke sawah dan lain sebagainya, ke Karimun Tuanku Sutan ini tempatnya. "Ada suatu ketika, salah seorang masyarakat Sikabu ini mengalami kehilangan ternak kerbau. Tiba-tiba kandang kerbaunya kosong. Ternaknya hilang lepas tak tahu arah. Dia datang ke Surau Gadang, menemui Karimun Tuanku Sutan. Oleh beliau, diambil seember air, lalu yang punya ternak disuruh menyerakkan air itu di kandangnya. Tak lama setelah diserakkan air itu, kerbaunya tadi berlari dari kejauhan menuju kandangnya," sebut Tuanku Khatib Ibrahim.
Di lain waktu, ada orang yang minta ditahlilkan. Terkenal dengan "tahlil gadang" atau "tahlil darajaik". Tak lama setelah ditahlilkan oleh Karimun Tuanku Sutan, orang yang dituju dalam tahlilnya itu meninggal. Apakah meninggal dunia yang bersangkutan karena takdir atau ajalnya sudah sampai, atau memang dari kekuatan tahlil Karimun Tuanku Sutan ini? Susah dijelaskan. Yang pasca itu, Karimun Tuanku Sutan digelari oleh banyak orang sebagai"Ungku Malaikat Maut".
Tahlil adalah membaca kalimat taibah, berupa zikir. Dilakukan secara bersama dan sendiri. Adalah wirid bagi ulama yang tafaqquh fiddin. Lewat zikir itu, cara mendekatkan diri kepada Allah SWT, tentu setelah mengkaji kalimat zikir itu sendiri, sebagai jalan menuju Allah SWT.
Upaya menahlilkan ini, kalau terhadap manusia, kalau tidak meninggal dunia adalah gila. Begitu benar kekuatan zikir dan tahlil yang dilakukan Karimun Tuanku Sutan ini. Makanya, upaya memintakan tahlil itu, adalah upaya terakhir, terhadap masalah yang menimpa masyarakat.
Keluarga
Karimun Tuanku Sutan wafat 27 Juni 1992, dimakamkan di komplek makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Keulamaannya serta Khalifah Tarekat, membuat beliau dibawa oleh Nagari Ulakan untuk dimakamkan di Ulakan. Sebab, di komplek makam itu yang boleh berkubur, adalah niniak mamak atau Rajo yang berempat, ketika wafat dalam bertugas. Selanjutnya, Ungku Kadhi, dan Khalifah.
Karimun Tuanku Sutan punya sejumlah istri, yang memberinya banyak anak pula. Tersebut, istrinya Paramen di Sikabu, Malah di Rawang, Tapakis, Sari Mananti di Ulakan. Di Pasa Jambu, Pakandangan juga ada istrinya.
Kesimpulan
Karimun Tuanku Sutan semasa hidupnya telah menjalankan fungsi keulamaannya. Tak salah bila beliau ditempatkan oleh masyarakat sebagai Khalifah keenam setelah Syekh Burhanuddin. Tafaqquh fiddinnya, membuat masyarakat membutuhkan beliau. Apapun juga persoalan masyarakat, Karimun Tuanku Sutan tempat mengadu. Beliau sebagai wasilah, meneruskan hajat manusia kepada Yang Maha Kuasa.
Bagi beliau sendiri, zikir dan tahlil merupakan ibadah yang penting dilakukan. Zikir adalah kekuatan tarekat, jalan hamba kepada Tuhannya. Jalan zikir inilah yang menjadi keistiqamahan Karimun Tuanku Sutan di Surau Gadang Sikabu.
Referensi
1. Wawancara dengan Tuanku Khatib Ibrahim, Syafri Tuanku Kaciak dan sejumlah tokoh masyarakat Sungai Gimba Ulakan, Jumat 30 Januari 2026.
