![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M. Rabu, 15072026.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya rumah ibadah yang pertama kali dibangun untuk manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam." (QS. Ali 'Imran: 96).
Ayat ini menegaskan bahwa Makkah dan kawasan sekitarnya merupakan pusat lahirnya risalah Islam dan peradaban dunia. Di antara kota yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah Thaif, kota yang dahulu menjadi saksi luka dakwah, tetapi kini tampil sebagai simbol kemajuan, keramahan, dan pembangunan.
Perjalanan kami menuju Thaif dimulai dari Makkah yang bersuhu sekitar 40 derajat Celsius. Panas gurun perlahan berubah menjadi kesejukan pegunungan Al-Hada. Jalan raya yang berkelok-kelok membelah tebing granit yang menjulang tinggi memperlihatkan keagungan ciptaan Allah SWT. Semakin tinggi kendaraan menanjak, semakin terasa perubahan udara yang sejuk dan menyegarkan.
Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika kami menaiki gondola (kereta gantung) Al-Hada. Selama kurang lebih tiga puluh menit, kabin melayang di atas jurang-jurang yang dalam dengan panorama pegunungan batu yang sangat ekstrem. Dari balik kaca gondola tampak jalan raya berliku seperti ular raksasa yang membelah gunung. Kendaraan di bawah terlihat hanya sebesar titik-titik kecil.
Subhanallah. Rasa kagum bercampur haru dan sedikit kecemasan menyelimuti hati. Di hadapan bentangan alam yang luar biasa itu, manusia benar-benar merasakan betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Allah SWT.
Sesampainya di dataran tinggi Al-Hada, rombongan kami disambut dengan pertunjukan kesenian tradisional Arab yang berlangsung meriah dan penuh kehangatan. Sejumlah laki-laki mengenakan pakaian khas Arab menampilkan tarian sambil berbaris dan berputar mengikuti irama tabuhan drum tradisional. Di sela-sela hentakan musik terdengar lantunan "Lā ilāha illallāh" yang dijawab secara bersama-sama dengan ucapan "Yā Hayyakum", ungkapan selamat datang yang berarti "kami menyambut dan memuliakan Anda". Syair-syair pujian dalam bahasa Arab terus berkumandang hingga kemudian disusul dengan lantunan "Ṭala'al Badru 'Alainā", lagu yang selalu mengingatkan umat Islam kepada sambutan hangat penduduk Madinah ketika Rasulullah SAW hijrah.
Setelah itu kami dipersilakan menikmati kurma, kopi Arab, dan minuman khas setempat. Sambutan tersebut bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ekspresi akhlak Islam yang memuliakan tamu (ikrām al-ḍaif), tradisi yang tetap hidup dalam masyarakat Arab hingga hari ini.
Namun, di balik suasana indah dan ramah itu, Thaif menyimpan salah satu kisah paling menyedihkan dalam sejarah kenabian.
Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA, Rasulullah SAW datang ke Thaif untuk mengajak penduduknya beriman kepada Allah. Harapan beliau tidak terwujud. Beliau justru dihina, diusir, dan dilempari batu hingga kedua kaki beliau berdarah.
Dalam keadaan terluka itulah Rasulullah SAW memanjatkan doa yang sangat menggetarkan:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي وَقِلَّةَ حِيلَتِي وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ...
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya dayaku, dan hinanya aku di hadapan manusia..."
Doa tersebut bukanlah ungkapan putus asa, melainkan puncak ketawakkalan seorang nabi kepada Tuhannya.
Ketika Malaikat Jibril menawarkan agar dua gunung menghancurkan penduduk Thaif, Rasulullah SAW menolaknya seraya bersabda bahwa beliau berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata.
Inilah akhlak kenabian yang luar biasa. Beliau membalas kebencian dengan kasih sayang, membalas kekerasan dengan doa, dan membalas penolakan dengan harapan.
Kini doa itu benar-benar menjadi kenyataan.
Thaif berkembang menjadi salah satu kota penting di Arab Saudi. Kota ini terkenal dengan udara pegunungan yang sejuk, kebun mawar, delima, anggur, kawasan wisata Al-Hada, kereta gantung modern, hotel-hotel bertaraf internasional, serta infrastruktur yang terus berkembang sebagai bagian dari Saudi Vision 2030.
Dalam kunjungan tersebut kami juga mengikuti Cultural Open Day, di mana setiap negara peserta diberi kesempatan menyampaikan presentasi singkat mengenai negaranya. Kegiatan ini mencerminkan penghargaan terhadap keberagaman budaya dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Thaif memberikan pelajaran bahwa peradaban besar tidak dibangun hanya dengan teknologi dan infrastruktur. Peradaban lahir dari kesabaran, pengampunan, visi yang panjang, dan kemampuan mengubah luka menjadi kekuatan.
Ketika gondola perlahan turun dari puncak Al-Hada, mata saya kembali memandang hamparan gunung batu yang megah. Alam seolah berbisik bahwa setiap perjalanan menuju puncak selalu menuntut kesabaran. Jalan yang berliku bukanlah penghalang, melainkan proses menuju pandangan yang lebih luas.
Thaif bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah madrasah sejarah. Di kota ini kita belajar bahwa dakwah memerlukan kesabaran, kepemimpinan memerlukan kasih sayang, dan pembangunan memerlukan visi yang jauh ke depan.
Dari kota yang dahulu menolak Rasulullah SAW, kini terpancar cahaya peradaban. Luka dakwah telah berubah menjadi rahmat, dan sejarah membuktikan bahwa doa seorang nabi mampu mengubah wajah sebuah kota menjadi salah satu pusat kemajuan dunia Islam.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، الذي علّم الإنسانية أن الرحمة أقوى من kebencian، وأن الصبر طريق النصر، وأن الدعاء يصنع التاريخ.
