![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta umrah undangan Raja Salman 1448
Ukhuwah atau persaudaraan adalah pilar fundamental dalam membangun fondasi sosial dan spiritual umat yang kokoh. Namun, layaknya sehelai kain, ukhuwah tidak terwujud dengan sendirinya. Ia harus dipintal, ditenun, dan dirajut melalui kesabaran, keikhlasan, dan komitmen yang berkelanjutan.
Melalui catatan ringkas ini, terdapat tiga poin refleksi penting mengenai bagaimana ukhuwah dibangun, dijaga, dan apa yang menjadi ancaman terbesar bagi keutuhannya.
1. Peringatan Mengungkai Rajutan (Surat An-Nahl: 92)
Al-Qur'an memberikan analogi yang sangat tajam terkait pemeliharaan ikatan sosial dalam Surat An-Nahl ayat 92: Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali..."
Ayat ini bukan sekadar peringatan tentang pentingnya menjaga sumpah atau perjanjian, melainkan sebuah metafora sosiologis yang mendalam. Upaya memintal dan merajut persatuan membutuhkan waktu, energi, dan dedikasi yang besar. Mengambil iktibar dari ayat ini, memintal dan merajut sebagai simbol ukhuwah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan hati-hati.
Satu benang yang terputus atau salah rajut dapat merusak keseluruhan pola. Begitu pula satu prasangka, ego sektoral, atau pudarnya integritas dapat menghancurkan tatanan ukhuwah dan kelembagaan umat yang telah dibangun dengan susah payah. Jangan sampai kita sendiri yang mengungkai dan menghancurkan persaudaraan yang sudah kuat tersebut hanya karena konflik kepentingan sesaat.
2. Makna Religius dan Orisinalitas (Filosofi Kiswah Ka'bah)
Inspirasi tentang kehati-hatian dan kesungguhan merajut ini terasa semakin nyata tatkala rombongan peserta umrah undangan Raja Salman tahun 1448 H dari kawasan Asia berkesempatan mengunjungi langsung pusat pembuatan Kiswah Ka'bah (Majma' Malik Abdul Aziz li Kiswatil Ka'bah).
Di sana, terpampang sebuah kenyataan bahwa Kiswah adalah simbol keagungan yang sakral dan disakralkan oleh seluruh umat Islam sedunia. Bukan sekadar kain penutup bangunan fisik, proses pembuatannya menuntut perlakuan khusus. Menariknya, di tengah gempuran modernisme dan efisiensi mesin pabrik, proses menyulam kaligrafi tauhid pada benang emas di kain Kiswah masih dipertahankan secara manual oleh tangan-tangan terampil.
Ada makna religius dan nilai orisinalitas yang dijaga dengan ketat dari proses ini:
Sentuhan Spiritual:
Merajut kain yang disakralkan menuntut sentuhan ruhiyah kefokusan tingkat tinggi, dan pengabdian jiwa yang sungguh-sungguh. Ini bukan sekadar proses produksi mekanis, melainkan sebuah ibadah
Negosiasi Nilai Sosial:
Ukhuwah juga identik dengan proses tersebut. Persaudaraan sejati tidak bisa dibangun secara instan atau artifisial. Ia menuntut kehati-hatian dalam negosiasi identitas yang tulus antar individu, serta pembiasaan etika dari lingkup terkecil keluarga hingga masyarakat luas. Mempertahankan nilai tradisional yang luhur dan dikerjakan sepenuh hati adalah kunci menjaga orisinalitas ajaran agama di tengah laju perubahan zaman.
3. Ancaman Wahn terhadap Rajutan Umat
Apa yang terjadi ketika rajutan ukhuwah yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh itu mulai terungkai? Rasulullah SAW telah jauh-jauh hari memprediksi sebuah kondisi krisis di mana umat Islam kehilangan daya rekat sosialnya.
Dalam sebuah hadis yang masyhur, beliau mengingatkan:
"Hampir tiba masanya bangsa-bangsa memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan memperebutkan hidangannya." Ketika ditanya apakah saat itu jumlah umat Islam sedikit, beliau menjawab: "Bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan... karena Allah telah menimpakan penyakit 'Wahn' di dalam hati kalian, yaitu cinta dunia (hubbud dunya) dan takut mati (karahiyatul maut)."* (HR. Abu Dawud)
Penyakit *wahn* inilah yang menjadi "tangan tak terlihat" yang mengungkai rajutan ukhuwah kita:
Materialisme dan Hedonisme:
Cinta dunia menciptakan persaingan yang saling menjatuhkan, merusak etika kepemimpinan, dan mengikis keikhlasan serta integritas beramal.
Kelemahan Moral:
Takut mati menghilangkan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan, dan berkorban demi tegaknya muruah (kehormatan) umat bersama.
Akibatnya, umat menjadi sekadar buih—banyak secara kuantitas, tetapi rapuh secara kualitas. Kehilangan kohesi sosial ini membuat umat mudah diperebutkan, dipermainkan, dan menjadi objek bagi kekuatan luar, persis seperti hidangan yang diperebutkan di meja makan.
Kesimpulan
Menghadapi krisis sosial dan etika saat ini, solusinya adalah kembali memintal benang persaudaraan yang sempat kusut. Layaknya menjaga kain Kiswah yang sakral dan disakralkan, memintal dan merajut ukhuwah harus diiringi dengan niat yang ikhlas, dikerjakan dengan sangat hati-hati, dan dipertahankan dengan sungguh-sungguh. Kita harus memastikan bahwa setiap helai rajutan ukhuwah diikat dengan ketakwaan yang kuat, agar tidak mudah terurai dan hancur oleh godaan *wahn* dan gemerlapnya dunia. @produksikiswah# 16072026.
